JAKARTA, ifakta.co – Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) resmi memulai pembangunan enam proyek hilirisasi strategis dengan total nilai investasi mencapai Rp110 triliun. 

Proyek yang tersebar di sektor energi, pertambangan, pertanian, hingga peternakan ini diproyeksikan membuka sekitar 3.000 lapangan kerja, baik langsung maupun tidak langsung.

Chief Executive Officer (CEO) Danantara, Rosan Roeslani, mengatakan enam proyek tersebut memiliki nilai investasi sekitar US$7 miliar dan melibatkan banyak pemangku kepentingan, termasuk usaha kecil dan menengah (UKM) di daerah lokasi proyek.

Iklan

“Dengan enam proyek ini, total investasi kami kurang lebih mencapai US$7 miliar atau sekitar Rp110 triliun,” ujar Rosan di kantor Danantara, Jakarta, dikutip Sabtu (7/2/2026).

Menurut Rosan, proyek hilirisasi tidak hanya berorientasi pada nilai investasi, tetapi juga memberikan dampak berganda (multiplier effect) berupa penciptaan lapangan kerja, pertumbuhan ekonomi daerah, hingga mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Enam proyek hilirisasi tersebut berlokasi di 13 daerah. Salah satunya adalah proyek hilirisasi poultry atau peternakan ayam yang tersebar di enam kabupaten/kota.

Rosan menjelaskan, proyek-proyek ini mencakup sektor mineral dan energi serta agroindustri yang menjadi tulang punggung transformasi ekonomi nasional ke depan. 

Hilirisasi juga menjadi salah satu fokus utama Presiden RI Prabowo Subianto karena dinilai memberikan dampak langsung bagi perekonomian dan kesejahteraan masyarakat.

Kontribusi hilirisasi terhadap investasi nasional tercatat terus meningkat. Pada 2025, proyek hilirisasi menyumbang sekitar 30 persen dari total realisasi investasi di Indonesia atau setara Rp584,1 triliun. Angka tersebut tumbuh 43,3 persen secara tahunan.

“Ke depan, sebaran proyek hilirisasi tidak lagi terpusat di wilayah tertentu saja, tetapi akan semakin merata ke berbagai daerah,” jelas Rosan.

Adapun enam proyek hilirisasi yang telah memasuki tahap groundbreaking meliputi:

Pertama, pembangunan smelter aluminium baru di Mempawah, Kalimantan Barat, dengan kapasitas 600 ribu metrik ton aluminium per tahun serta Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Fase II berkapasitas 1 juta metrik ton alumina per tahun. 

Proyek ini digarap oleh MIND ID bersama Inalum dan Antam untuk memperkuat ketahanan mineral nasional dan rantai nilai industri manufaktur. Nilai tambah dari bauksit hingga aluminium diperkirakan meningkat hingga 70 kali lipat.

Kedua, Pabrik Bioethanol Glenmore Fase I di Banyuwangi, Jawa Timur, yang dikembangkan PTPN III (Persero) bersama Pertamina. 

Pabrik ini dirancang memiliki kapasitas produksi 100 kiloliter per hari (KLPD) guna mendukung ketahanan energi nasional dan pengurangan emisi.

Ketiga, Proyek Hilirisasi Fase I Biorefinery Cilacap di Jawa Tengah yang digarap PT Pertamina (Persero). Fasilitas ini mampu mengolah hingga 6 ribu barel per hari minyak jelantah dan saat ini telah memproduksi 27 kiloliter Sustainable Aviation Fuel (SAF) per hari. 

Pada 2029, kapasitas produksi SAF diproyeksikan meningkat menjadi 887 kiloliter per hari.

Keempat, pembangunan Pabrik Bioethanol Glenmore berbasis tebu di Banyuwangi dengan kapasitas 30 ribu kiloliter per tahun yang dikelola Pertamina New and Renewable Energy bersama PT Sinergi Gula Nusantara (SGN).

Kelima, tiga proyek pabrik garam industri dengan total kapasitas produksi sekitar 380 ribu ton per tahun yang tersebar di Kabupaten Sampang dan Gresik, Jawa Timur. 

Proyek ini diharapkan mampu memperkuat pasokan garam industri nasional dan menciptakan lapangan kerja baru.

Keenam, Fasilitas Hilirisasi Poultry Terintegrasi di Kecamatan Ngajum, Kabupaten Malang, Jawa Timur, yang dikembangkan ID FOOD melalui PT Berdikari. 

Selain Malang, proyek serupa juga dibangun di Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, Lampung, Gorontalo, dan Nusa Tenggara Barat.

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menargetkan pengembangan 18 proyek hilirisasi dengan nilai investasi mencapai Rp618 triliun yang diperkirakan mampu menciptakan 276 ribu lapangan kerja berkualitas baru.

“Hilirisasi adalah kunci. Delapan belas proyek ini akan menciptakan 276.000 pekerjaan berkualitas dengan investasi Rp618 triliun,” kata Prabowo dalam Rapat Koordinasi Nasional Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2026 di Bogor. (AMN)