JAKARTA, ifakta.co – Pasar valuta asing menunjukkan dinamika menarik seiring pergerakan pasangan USD/JPY yang kini berada di kisaran ¥153 hingga ¥154.
Tekanan terhadap pasangan mata uang ini dinilai semakin besar ketika harga minyak mentah bergerak di bawah rata-rata pergerakan 200 hari, khususnya saat berada di rentang US$60 hingga US$80 per barel.
Analisis terbaru dari Citigroup atau Citi mengungkapkan bahwa frekuensi pelemahan USD/JPY di bawah rata-rata 200 hari cenderung meningkat dalam kondisi harga minyak yang relatif rendah tersebut.
Iklan
Sebaliknya, tekanan penurunan menjadi lebih jarang terjadi ketika harga minyak mentah berada di atas US$80 per barel, bahkan jika secara teknikal masih diperdagangkan di bawah garis rata-rata 200 hari.
Saat ini, rata-rata pergerakan 200 hari USD/JPY diperkirakan akan naik ke level sekitar ¥155 dalam satu bulan ke depan. Hal ini menjadi indikator penting bagi pelaku pasar dalam membaca arah tren jangka menengah pasangan mata uang tersebut.
Citi menilai bahwa agar USD/JPY dapat menembus ke bawah level rata-rata tersebut, diperlukan pelemahan lanjutan pada harga minyak mentah Brent. Dengan kata lain, penurunan harga energi global berpotensi menjadi katalis utama bagi penguatan yen terhadap dolar AS.
Kondisi ini mencerminkan keterkaitan erat antara pasar komoditas dan valuta asing, di mana fluktuasi harga minyak turut memengaruhi sentimen investor serta arus modal global. Pelaku pasar pun diimbau untuk mencermati pergerakan harga minyak Brent sebagai indikator kunci dalam memproyeksikan arah USD/JPY ke depan.
(FA/FZA)



