JAKARTA, ifakta.co – Militer Israel menyatakan akan melakukan penyelidikan menyeluruh terkait tewasnya tiga prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang tergabung dalam pasukan penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa di Lebanon Selatan dalam dua hari terakhir.

Melalui pernyataan resmi yang diunggah di akun Telegram, Israel Defense Forces (IDF) menyebut seluruh insiden yang melibatkan personel United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) akan ditinjau untuk memastikan penyebab kejadian.

“Insiden-insiden tersebut sedang ditinjau secara menyeluruh untuk mengetahui keadaan dan menentukan apakah peristiwa tersebut disebabkan oleh aktivitas Hizbullah atau oleh IDF,” demikian pernyataan militer Israel, Selasa (31/3), dikutip AFP.

Iklan

IDF: Lokasi Kejadian Merupakan Zona Tempur Aktif

IDF menegaskan bahwa seluruh insiden yang menewaskan personel UNIFIL terjadi di wilayah Lebanon Selatan, yang saat ini dikategorikan sebagai area pertempuran aktif antara pasukan Israel dan milisi Hizbullah.

“Karena insiden terjadi di zona konflik aktif, tidak seharusnya langsung diasumsikan bahwa peristiwa yang menimpa personel UNIFIL disebabkan oleh IDF,” ujar pernyataan resmi militer Israel.

Wilayah tersebut selama ini memang kerap menjadi lokasi bentrokan antara militer Israel dan Hizbullah, kelompok bersenjata yang didukung Iran.

Sebelumnya, dua personel TNI yang bertugas dalam misi UNIFIL dilaporkan tewas dalam sebuah serangan di sekitar wilayah Bani Hayyan, Lebanon Selatan, pada Senin (30/3).

Kepala Operasi Penjaga Perdamaian PBB, Jean-Pierre Lacroix, mengonfirmasi bahwa kedua korban merupakan warga negara Indonesia.

Dalam keterangannya, UNIFIL menyebut kedua prajurit TNI tersebut meninggal dunia akibat ledakan dari sumber yang hingga kini belum diketahui, yang menyebabkan kendaraan yang mereka tumpangi hancur.

Insiden di Bani Hayyan terjadi sehari setelah seorang prajurit TNI lainnya, Praka Farizal Rhomadhon, gugur akibat ledakan proyektil di dekat salah satu pos Indonesia di Desa Adchit Al Qusayr, Lebanon Selatan, pada Minggu (29/3).

Dengan demikian, total tiga prajurit TNI gugur dalam dua hari berturut-turut saat menjalankan tugas perdamaian di bawah mandat PBB.

PBB dan Indonesia Kutuk Keras Insiden

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres bersama Pemerintah Indonesia menyampaikan kecaman keras atas insiden yang menewaskan personel pasukan penjaga perdamaian tersebut.

Menteri Luar Negeri RI, Sugiono, bahkan mendesak digelarnya pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB untuk membahas keamanan pasukan UNIFIL.

“Keselamatan dan keamanan pasukan penjaga perdamaian PBB tidak dapat ditawar dan harus dijunjung tinggi setiap saat,” tulis Sugiono melalui akun media sosial X, Selasa (31/3).

UNIFIL ditempatkan di Lebanon Selatan untuk memantau situasi keamanan di sepanjang garis demarkasi Lebanon–Israel. Wilayah ini selama bertahun-tahun menjadi titik panas konflik bersenjata.

Saat ini, UNIFIL memiliki sekitar 10.000 personel penjaga perdamaian dari berbagai negara. Indonesia menjadi salah satu kontributor terbesar dengan mengerahkan sekitar 1.200 prajurit TNI dalam misi tersebut.

(min/min)