JAKARTA, ifakta.co – Fenomena lonjakan sampah makanan kerap terjadi di tengah tradisi silaturahmi dan jamuan berlimpah saat Idulfitri.
Dosen Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB University, Dr Meti Ekayani, menilai kondisi ini mencerminkan paradoks dalam budaya konsumsi masyarakat.
Menurutnya, niat memuliakan tamu dengan menyediakan hidangan berlimpah justru sering berujung pada pemborosan.
Iklan
“Kalau ditanya penyebabnya, sebenarnya ada dua hal, budaya konsumsi masyarakat dan sistem pengelolaan sampah yang belum efektif,” ujarnya dalam laman IPB (17/3).
Ia menjelaskan, kebiasaan menyediakan makanan dalam jumlah banyak tidak lepas dari norma sosial yang menganggap jamuan melimpah sebagai bentuk penghormatan. Akibatnya, banyak rumah tangga menyiapkan makanan jauh melebihi kebutuhan.
“Kita cenderung tidak mau dianggap tidak sopan kalau makanan kurang. Jadi lebih baik dilebihkan. Padahal sering kali akhirnya tidak habis,” jelasnya.
Kondisi tersebut diperparah minimnya perencanaan konsumsi di tingkat rumah tangga. Dr Meti menyebut, banyak keluarga memasak atau membeli makanan tanpa memperhitungkan jumlah anggota keluarga yang benar-benar akan makan.
Fenomena ini semakin terlihat selama Ramadan hingga Idulfitri. Saat berbuka puasa, masyarakat kerap membeli berbagai jenis makanan karena dorongan “lapar mata”. Namun, tidak semua makanan tersebut dikonsumsi.
“Sering kali kita merasa semua makanan terlihat enak saat membeli. Tapi ketika waktunya makan, ternyata tidak habis,” katanya.
Perubahan aktivitas selama Ramadan juga turut memicu pemborosan. Tidak jarang anggota keluarga berbuka puasa di luar rumah, sementara makanan sudah terlanjur disiapkan.
“Misalnya di rumah ada lima orang, tapi ternyata tiga orang berbuka puasa di luar. Akhirnya makanan yang sudah disiapkan menjadi berlebih,” ungkapnya.
Dr Meti menegaskan, dampak food waste tidak hanya berhenti pada pemborosan, tetapi juga meningkatkan beban sampah kota. Ia menilai sistem pengelolaan sampah di Indonesia masih didominasi pola “kumpul–angkut–buang” tanpa insentif pengurangan dari sumber.
“Pengelolaan sampah kita masih didominasi sistem kumpul, angkut–buang. Berapa pun sampah yang dihasilkan, iurannya sama. Jadi tidak ada insentif bagi masyarakat untuk mengurangi sampah,” jelasnya.
Sebagai solusi, ia mendorong perubahan perilaku melalui perencanaan konsumsi yang lebih matang dan kebiasaan memilah sampah. Pemilahan dinilai penting agar sampah anorganik tetap memiliki nilai ekonomi.
“Kalau food waste tercampur dengan sampah kering, yang tadinya masih bisa dijual atau didaur ulang jadi tidak bisa dimanfaatkan lagi,” ujarnya.
Selain itu, limbah makanan juga dapat diolah menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat, seperti kompos atau pakan melalui budidaya maggot.
“Kalau food waste tidak bisa sepenuhnya dicegah, setidaknya bisa diolah. Dengan begitu, kita tidak hanya mengurangi sampah tetapi juga menciptakan manfaat baru dari limbah makanan,” tutupnya.
(naf/kho)



