BANYUMAS, ifakta.co – Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Brawijaya (UB) terus meningkatkan fasilitas laboratorium guna mendukung kegiatan pendidikan, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat.

Salah satu upaya tersebut dilakukan melalui pemanfaatan alat Body Composition Analyzer di Laboratorium Asesmen Gizi dan Komunikasi FIKES UB.

Kepala Laboratorium Asesmen Gizi dan Komunikasi FIKES UB, Ayuningtyas Dian Ariestiningsih, menjelaskan bahwa pada awalnya laboratorium tersebut difokuskan untuk menunjang kegiatan praktikum mahasiswa di bidang gizi.

Iklan

Namun seiring berkembangnya fasilitas serta kebutuhan akademik, pemanfaatannya kini juga diperluas untuk kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

“Laboratorium kami memang fokus utamanya untuk kegiatan praktikum mahasiswa. Namun selain itu juga dimanfaatkan untuk penelitian dan kegiatan pengabdian kepada masyarakat, meskipun selama ini masih sebatas sebagai dukungan alat,” ujar Ayuningtyas, dilansir dari laman UB Jumat (14/3).

Penguatan fasilitas laboratorium ini didukung oleh hibah pengembangan laboratorium pendidikan yang diperoleh pada 2022.

Melalui hibah tersebut, laboratorium melengkapi perangkat asesmen kesehatan dengan alat Body Composition Analyzer tipe InBody 970, yang mampu menganalisis komposisi tubuh secara lebih detail.

Perangkat ini digunakan untuk mengukur berbagai parameter komposisi tubuh secara non-invasif. Melalui alat tersebut, pengguna dapat memperoleh data mengenai massa otot, massa lemak tubuh, kadar air dalam tubuh, hingga distribusi komposisi tubuh secara segmental.

Informasi tersebut dapat menjadi dasar dalam mengevaluasi kondisi gizi, tingkat kebugaran, serta pemantauan kesehatan secara lebih akurat.

Ayuningtyas menuturkan bahwa keberadaan alat ini memberikan manfaat besar dalam proses pembelajaran mahasiswa, sekaligus membuka peluang pengembangan layanan kesehatan berbasis asesmen komposisi tubuh.

“Dengan alat InBody 970 ini, kita bisa melakukan asesmen komposisi tubuh secara lebih spesifik dan mendalam. Harapannya tidak hanya bermanfaat untuk praktikum mahasiswa, tetapi juga dapat membuka peluang kerja sama dengan berbagai mitra, termasuk rumah sakit,” jelas Ayuningtyas.

Ke depan, laboratorium tersebut juga berencana mengembangkan layanan asesmen komposisi tubuh yang dapat diakses tidak hanya oleh sivitas akademika UB, tetapi juga masyarakat umum.

Layanan ini nantinya tidak hanya menyediakan pemeriksaan komposisi tubuh, tetapi juga dilengkapi dengan konseling gizi agar hasil pemeriksaan dapat dipahami serta dimanfaatkan secara optimal oleh pengguna.

Saat ini, pembukaan layanan tersebut masih menunggu penetapan tarif resmi yang memerlukan dasar hukum dari universitas. Meski demikian, pihak laboratorium telah menyiapkan fasilitas, sumber daya manusia, serta mekanisme layanan yang diperlukan untuk mendukung pelaksanaannya.

“Sering kali masyarakat hanya menerima hasil pengukuran tanpa memahami maknanya. Karena itu nantinya layanan ini juga akan dilengkapi dengan konseling gizi agar hasil asesmen bisa ditindaklanjuti dengan lebih tepat,” pungkasnya.

(naf/kho)