SHANGHAI, Ifakta.co – Sirkuit Internasional Shanghai kembali menjadi panggung drama besar di dunia Formula 1. Ketegangan meningkat setelah kepala tim Red Bull, Laurent Mekies, secara terbuka meminta maaf kepada juara dunia empat kali, Max Verstappen, menyusul hasil mengejutkan pada sesi kualifikasi sprint Grand Prix Cina 2026.
Verstappen, yang selama beberapa musim terakhir mendominasi F1, tidak menutupi kekecewaannya. Pembalap asal Belanda itu menyebut performa mobilnya sebagai “bencana”, setelah tertinggal sangat jauh dari pole-sitter dengan selisih hingga 1,7 detik. Hasil ini menjadi pukulan telak bagi tim yang selama ini dikenal hampir tak tersentuh.
Performa Red Bull terlihat kesulitan menyesuaikan diri dengan karakter cepat di Shanghai International Circuit, berbeda dengan lintasan teknis seperti Albert Park Circuit di Melbourne yang menjadi pembuka musim sebelumnya.
Iklan
Russell Cetak Sejarah, Mercedes Kuasai Barisan Depan
Di tengah kesulitan Red Bull, Mercedes-AMG Petronas Formula One Team justru tampil dominan. Pembalap Inggris George Russell mencatat sejarah dengan meraih pole position Sprint pertamanya di F1.
Russell tampil konsisten sepanjang sesi kualifikasi sprint dan mencatat waktu impresif 1:31.520 pada putaran pertama SQ3. Catatan tersebut membuatnya unggul 0,360 detik dari rekan setimnya yang masih sangat muda, Kimi Antonelli, yang mengamankan posisi kedua.
Sementara itu, legenda F1 Lewis Hamilton melengkapi tiga besar, mempertegas dominasi Mercedes pada awal akhir pekan balapan di Shanghai.
Ferrari Ambil Risiko dengan Teknologi Cetak 3D
Di sisi lain paddock, Scuderia Ferrari juga menjadi sorotan dengan strategi teknis yang tidak biasa. Tim asal Maranello tersebut membawa paket peningkatan besar, termasuk komponen yang diproduksi menggunakan teknologi cetak 3D.
Namun yang paling mencuri perhatian adalah keputusan Ferrari untuk tidak menggunakan sayap belakang revolusioner “Macarena” saat kualifikasi sprint. Komponen aerodinamika ini sempat menjadi bahan pembicaraan karena mampu berputar hingga 270 derajat untuk mengatur aliran udara secara ekstrem.
Keputusan Ferrari ini bahkan membuat Hamilton kebingungan.
“Teknologinya sangat menarik, tapi saya cukup terkejut mereka tidak memakainya di sesi ini,” ujar Hamilton.
Norris Intai Celah Hentikan Mercedes
Pembalap Lando Norris dari McLaren Formula 1 Team melihat peluang untuk menggagalkan dominasi Mercedes saat balapan sprint dimulai.
Menurut Norris, momen start adalah satu-satunya kesempatan realistis untuk menyalip dua mobil Mercedes yang berada di barisan depan.
“Start akan sangat krusial. Jika ada peluang untuk menekan mereka, itu harus terjadi di tikungan pertama,” kata Norris.
Drama di Luar Trek: Saham Alpine Diperebutkan
Ketegangan F1 tidak hanya terjadi di lintasan. Di luar trek, muncul kabar mengejutkan mengenai potensi transaksi besar di paddock.
Tokoh veteran F1 Flavio Briatore mengonfirmasi bahwa Mercedes-AMG Petronas Formula One Team menjadi salah satu pihak yang tertarik membeli 24 persen saham tim Alpine F1 Team.
Nilai kesepakatan tersebut diperkirakan mencapai 750 juta dolar AS, dengan saham saat ini dimiliki oleh kelompok investor yang dipimpin firma investasi Amerika, Otro Capital.
Jika transaksi ini terwujud, lanskap politik dan bisnis Formula 1 bisa berubah drastis.
Akhir Pekan yang Bisa Mengubah Musim
Grand Prix Cina 2026 kini berkembang menjadi salah satu akhir pekan paling menegangkan musim ini. Dominasi Mercedes, eksperimen teknologi Ferrari, serta frustrasi Verstappen membuka kemungkinan besar bahwa peta persaingan F1 sedang bergeser.
Dan jika Red Bull tidak segera menemukan solusi, musim yang biasanya mereka kuasai bisa berubah menjadi pertarungan terbuka di antara para raksasa Formula 1.
(FA/FZA)
