JAKARTA, ifakta.co — Eskalasi perang di Timur Tengah kian membara. Iran dilaporkan terus melancarkan serangan rudal secara intensif ke wilayah Israel, siang dan malam, sebagai balasan atas operasi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel yang menghantam sejumlah target strategis di Iran sejak akhir Februari 2026.

Militer Israel menyebut beberapa rudal Iran menghantam wilayah Israel tengah, termasuk kawasan sekitar Tel Aviv, memicu sirene peringatan serangan udara di berbagai kota. Sistem pertahanan udara Israel berupaya mencegat sebagian besar proyektil, namun beberapa di antaranya dilaporkan berhasil mencapai daratan.

Iklan

Serangan balasan Iran terjadi setelah operasi militer besar yang diluncurkan Israel dan Amerika Serikat pada 28 Februari 2026 terhadap fasilitas militer dan infrastruktur strategis Iran. Operasi tersebut disebut menargetkan program nuklir serta kemampuan rudal Teheran.

Di sisi lain, Teheran menegaskan tidak akan tinggal diam. Pemerintah Iran bersumpah akan membalas serangan tersebut dan memperingatkan bahwa infrastruktur militer maupun ekonomi yang terkait dengan Israel dan sekutunya di kawasan dapat menjadi sasaran berikutnya.

Serangan Beruntun Siang dan Malam

Dalam beberapa hari terakhir, laporan militer menyebut Iran meluncurkan gelombang serangan rudal balistik dan drone secara bertahap. Serangan dilakukan pada malam hari maupun siang hari untuk menekan sistem pertahanan udara Israel.

Konflik ini juga meluas ke wilayah lain di Timur Tengah. Kelompok sekutu Iran, termasuk milisi di Irak dan Hizbullah di Lebanon, turut melancarkan serangan terhadap target Israel maupun pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan.

Akibat eskalasi tersebut, korban jiwa terus bertambah. Laporan awal menyebut ratusan hingga lebih dari seribu orang tewas dalam rangkaian serangan dan serangan balasan di berbagai wilayah yang terlibat konflik.

Pengamat menilai perang antara Iran dan Israel kini berpotensi berubah menjadi konflik regional yang lebih luas. Sejumlah negara Timur Tengah mulai meningkatkan kesiagaan militer, sementara komunitas internasional mendesak semua pihak menahan diri dan kembali ke meja diplomasi.

Meski demikian, hingga kini belum terlihat tanda-tanda meredanya pertempuran. Baik Iran maupun Israel terus menunjukkan kesiapan militer, sementara Amerika Serikat menegaskan operasi militernya di kawasan masih akan berlanjut.

Jika eskalasi ini terus meningkat, perang terbuka di Timur Tengah dikhawatirkan akan membawa dampak besar terhadap stabilitas keamanan global serta perekonomian dunia, terutama sektor energi.
(FA/FZA)