JAKARTA, ifakta.co – Puding karamel menjadi salah satu hidangan penutup yang digemari di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Dessert ini dikenal memiliki tekstur lembut dengan perpaduan rasa manis legit serta sentuhan pahit dari lapisan karamel yang khas. Tak heran, puding karamel kembali populer dan banyak dijadikan menu takjil saat bulan Ramadan.
Di balik tampilannya yang sederhana, puding karamel ternyata memiliki sejarah panjang yang melintasi berbagai peradaban dunia.
Iklan
Sejarah Puding Karamel dari Eropa hingga Asia
Puding karamel dikenal dengan beragam nama di berbagai negara. Di Prancis, hidangan ini disebut crème caramel, sementara di Spanyol dan negara-negara Amerika Latin dikenal sebagai flan. Di India, dessert serupa populer dengan nama caramel custard, sedangkan di sejumlah wilayah Eropa lainnya disebut custard pudding atau crème custard.
Sejumlah sejarawan kuliner meyakini bahwa konsep dasar puding berbahan susu dan telur telah ada sejak zaman Romawi kuno.
Bangsa Romawi menggunakan telur sebagai bahan pengental alami dalam berbagai masakan, baik manis maupun gurih. Kombinasi susu dan telur yang mudah diperoleh menjadikan hidangan ini berkembang sebagai makanan penutup yang praktis sekaligus mengenyangkan.
Memasuki Abad Pertengahan, berbagai resep puding mulai menyebar ke seluruh Eropa. Namun, bentuk puding karamel modern dengan lapisan gula karamel cair diperkirakan mulai populer di Prancis pada abad ke-17 hingga ke-18, ketika gula semakin mudah diakses dan teknik karamelisasi berkembang pesat.
Dari Prancis, resep tersebut kemudian menyebar ke Spanyol dan selanjutnya dibawa oleh penjelajah Spanyol ke kawasan Amerika Latin. Di wilayah ini, flan berkembang menjadi salah satu hidangan penutup paling ikonik dengan berbagai variasi lokal.
Pengaruh kolonial juga membawa hidangan serupa ke Asia, seperti leche flan di Filipina yang memiliki karakter hampir sama dengan puding karamel.
Kini, puding karamel dikenal sebagai dessert klasik yang tetap populer lintas generasi.
Cocok sebagai Menu Takjil
Dengan rasa dominan manis dan tekstur lembut, puding karamel kerap dipilih sebagai hidangan berbuka puasa. Sensasi dingin dan lembutnya mampu memberikan kesegaran setelah seharian berpuasa. Selain itu, proses pembuatannya relatif mudah sehingga dapat menjadi aktivitas memasak yang menyenangkan di rumah.
Resep Puding Karamel Rumahan
Berikut resep sederhana puding karamel yang bisa dibuat sendiri.
Bahan Karamel
- 150 gram gula pasir
- 3 sendok makan air
Bahan Puding
- 500 ml susu evaporasi
- 1 bungkus cream cheese atau keju oles
- 3 butir telur
- 80 gram gula pasir
- 1 sendok teh vanili
- Sejumput garam
- Susu kental manis secukupnya
Cara Membuat
- Membuat lapisan karamel
Panaskan gula pasir dan air menggunakan api kecil hingga mencair dan berubah warna menjadi cokelat keemasan. Hindari mengaduk menggunakan sendok, cukup goyangkan panci agar panas merata. Setelah siap, tuangkan karamel ke dalam cetakan dan ratakan.
- Menyiapkan adonan puding
Kocok telur dan gula hingga tercampur rata. Tambahkan susu evaporasi, vanili, susu kental manis, serta garam. Aduk perlahan agar adonan tidak berbusa. Saring adonan untuk menghasilkan tekstur puding yang halus.
- Proses pengukusan
Tuangkan adonan ke dalam cetakan berisi karamel. Kukus dengan api kecil selama sekitar 30–40 menit hingga adonan mengeras.
- Pendinginan
Setelah matang, dinginkan puding pada suhu ruang, kemudian simpan di dalam kulkas minimal dua jam agar teksturnya lebih padat.
- Penyajian
Balik cetakan secara perlahan di atas piring saji sehingga lapisan karamel berada di bagian atas. Puding karamel siap dinikmati.
(naf/kho)



