JAKARTA, Ifakta.co – Setelah sukses dengan film-film horor yang mengguncang seperti Pengabdi Setan dan Siksa Kubur, Joko Anwar kembali menghadirkan teror mencekam lewat karya terbarunya, “Ghost in the Cell.”
Film ini berkisah tentang Nara, seorang jurnalis investigasi yang terbangun dalam sebuah sel beton sempit tanpa ingatan bagaimana ia bisa berada di sana. Ruangan itu dingin, tanpa jendela, hanya ada kamera pengawas di sudut langit-langit dan pengeras suara yang sesekali menyala sendiri.
Suatu malam, terdengar suara perempuan berbisik dari dinding sel sebelah. Ia mengaku sudah mati.
Iklan
Awalnya Nara mengira itu hanya halusinasi akibat trauma. Namun bisikan itu mulai mengungkap rahasia masa lalu Nara termasuk liputannya tentang eksperimen ilegal di sebuah fasilitas rehabilitasi mental yang terbengkalai. Tempat itu dulunya digunakan untuk “membersihkan” ingatan para tahanan politik dengan metode yang kejam dan tidak manusiawi.
Setiap kali lampu padam, dinding sel berubah. Retakan-retakan membentuk wajah. Kamera pengawas berputar sendiri. Dan suara di sebelahnya semakin jelas, menuntut sesuatu yang belum selesai.
Ketika Nara akhirnya menemukan bahwa sel itu bukan sekadar ruang fisik melainkan konstruksi kesadaran sebuah “penjara memori” ia menyadari bahwa hantu yang menghantuinya mungkin bukan makhluk lain… melainkan bagian dari dirinya sendiri yang sengaja dikubur.
Dalam gaya khas Joko Anwar, film ini tidak hanya menghadirkan ketakutan visual, tetapi juga kritik sosial tentang kekuasaan, manipulasi ingatan, dan rasa bersalah kolektif yang tak pernah benar-benar hilang.(FA)


