PURWOKERTO, ifakta.co – Cabai (Capsicum spp.) berasal dari benua Amerika, terutama kawasan Amerika Selatan dan Amerika Tengah, termasuk wilayah Meksiko.
Tanaman ini diperkirakan telah ada sejak sekitar 25.000 SM dan mulai dibudidayakan oleh manusia lebih dari 6.000–7.500 tahun yang lalu. Sejak saat itu, cabai berkembang menjadi salah satu rempah terpenting yang digunakan luas di berbagai budaya kuliner di dunia.
Komposisi Alami dan Nutrisi Cabai
Iklan
Cabai mengandung beragam komposisi nutrisi penting yang meliputi vitamin, mineral, dan senyawa bioaktif. Jenis sayuran ini dikenal kaya akan vitamin C, vitamin A dalam bentuk beta-karoten, serta vitamin B6 yang berperan dalam berbagai proses metabolisme tubuh.
Selain vitamin, cabai juga mengandung sejumlah mineral, seperti kalium, kalsium, fosfor, zat besi, magnesium, dan mangan.
Tak hanya itu, cabai turut dilengkapi berbagai senyawa aktif, terutama capsaicin sebagai komponen pemberi rasa pedas, serta karotenoid seperti capsanthin pada cabai merah dan lutein pada cabai hijau. Kandungan flavonoid, termasuk quercetin dan luteolin, semakin melengkapi komposisi fitokimia alami pada cabai.
Khasiat Cabai bagi Kesehatan
1. Meningkatkan daya tahan tubuh
Cabai kaya akan vitamin C yang bahkan melebihi kandungan jeruk. Nutrisi ini membantu memperkuat sistem imun, sehingga tubuh lebih tahan terhadap infeksi dan penyakit.
2. Meredakan rasa sakit
Senyawa capsaicin pada cabai tak hanya memberi rasa pedas, tetapi juga digunakan dalam salep atau krim untuk mengurangi nyeri otot dan sendi. Sensasi hangat yang muncul saat digunakan menandakan efeknya dalam meredakan nyeri.
3. Menurunkan berat badan
Konsumsi cabai dalam jumlah wajar dapat membantu menekan nafsu makan dan meningkatkan pembakaran lemak berkat kandungan capsaicin di dalamnya.
4. Melegakan hidung tersumbat
Rasa pedas cabai dapat membantu meredakan pembengkakan pada saluran pernapasan dan mengencerkan lendir, sehingga hidung lebih mudah bernapas kembali.
5. Melawan radikal bebas
Kandungan capsaicin dan vitamin C dalam cabai memiliki efek antioksidan dan antiperadangan, membantu melindungi sel tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas.
6. Mencegah pertumbuhan sel kanker
Senyawa bioaktif pada cabai, seperti capsaicin, karotenoid pada cabai merah, dan violaxanthin pada cabai kuning, berperan sebagai antioksidan yang dapat melawan sel kanker.
Cara Konsumsi Cabai
Cabai bisa dikonsumsi dengan berbagai cara, tergantung selera dan tujuan penggunaan. Untuk konsumsi mentah, cabai cukup dicuci bersih dan dapat dimakan langsung bersama gorengan atau hidangan lain.
Cabai juga umum diolah menjadi sambal pedas atau dicampurkan ke dalam masakan berkuah, seperti sup dan semur, tumisan, atau dijadikan saus perendam untuk menambah cita rasa pedas pada masakan.
Selain itu, cabai juga bisa dimanfaatkan sebagai minuman herbal, seperti cabai jawa atau puyang. Serbuk cabai jawa dapat direbus selama beberapa menit, kemudian diminum beberapa kali seminggu. Alternatif lain adalah menumbuk cabai jawa kering dan mencampurnya dengan madu atau air matang.
Daun cabai jawa pun bisa direbus untuk dijadikan obat kumur saat sakit gigi. Bubuk cabai juga bisa ditambahkan ke smoothie, air, atau makanan, bahkan ditaburkan di atas hidangan telur seperti orak-arik atau frittata untuk sensasi pedas tambahan.
Meski cabai memiliki banyak manfaat, konsumsinya perlu dibatasi karena kandungan capsaicin yang tinggi dapat menimbulkan efek samping. Terlalu banyak mengonsumsi cabai bisa menyebabkan gangguan pencernaan, seperti sakit maag, naiknya asam lambung (GERD), nyeri perut, hingga diare.
Selain itu, beberapa orang mungkin merasakan mulut terbakar, jantung berdebar, keringat berlebih, sakit kepala, atau sulit tidur.
Oleh karena itu, penting untuk menyesuaikan konsumsi cabai dengan toleransi tubuh agar manfaatnya tetap diperoleh tanpa menimbulkan iritasi pada lambung dan usus.
Sumber: Alodokter.com
(naf/kho)



