SEMARANG, ifakta.co Gangguan susah tidur atau insomnia masih kerap dianggap sepele. Padahal, kondisi ini dapat berdampak luas terhadap kesehatan fisik maupun mental bila berlangsung dalam jangka panjang.

Insomnia ditandai dengan berbagai keluhan tidur, mulai dari sulit memulai tidur, sering terbangun di malam hari, hingga merasa tidak segar saat bangun pagi.

Pada sebagian orang, gangguan ini juga disertai gejala lain seperti mengantuk berlebihan di siang hari, tubuh terasa lemas, hingga sulit berkonsentrasi saat beraktivitas.

Iklan

Gejala Insomnia yang Perlu Diwaspadai

Penderita insomnia dapat mengalami pola tidur yang tidak teratur, kesulitan terlelap di malam hari, hingga sering terbangun dan sulit tidur kembali. Beberapa orang juga mengalami gangguan gerak tungkai saat hendak tidur, napas tidak teratur, mimpi buruk, atau perilaku tidak sadar seperti berteriak dan berjalan saat tidur.

Gejala lain yang kerap muncul meliputi mendengkur, tersedak, mengertakkan gigi, atau henti napas sesaat ketika tidur.

Tak jarang, penderita insomnia merasakan kelumpuhan sementara saat bangun tidur, kesemutan di tangan dan kaki, serta rasa lelah berkepanjangan. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko tertidur tiba-tiba di siang hari, bahkan saat melakukan aktivitas berbahaya seperti mengemudi.

Risiko Kesehatan Akibat Insomnia

Susah tidur yang berlangsung lama dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit serius. Secara fisik, insomnia dikaitkan dengan gangguan pencernaan seperti GERD, tekanan darah tinggi, stroke, penyakit jantung, diabetes, obesitas, hingga penurunan daya tahan tubuh.

Tak hanya itu, insomnia juga berdampak pada kesehatan mental. Gangguan ini dapat memicu atau memperburuk kondisi seperti kecemasan dan depresi, yang pada akhirnya menurunkan kualitas hidup penderitanya.

Penyebab Insomnia

Berdasarkan penyebabnya, insomnia dibagi menjadi dua jenis, yakni insomnia primer dan insomnia sekunder.

Insomnia primer umumnya dipicu oleh faktor nonmedis, seperti stres akibat pekerjaan, masalah keuangan, pengalaman traumatis, atau peristiwa duka. Pola tidur yang tidak teratur akibat tuntutan kerja atau jet lag, serta kebiasaan buruk sebelum tidur, seperti makan berlebihan, menonton televisi, atau terlalu lama menggunakan gawai juga dapat memicu insomnia.

Faktor lingkungan, seperti cahaya berlebih, kebisingan, atau suhu kamar yang tidak nyaman, turut berperan.

Sementara itu, insomnia sekunder muncul akibat kondisi lain yang mendasarinya. Gaya hidup tidak sehat, seperti merokok, konsumsi kafein dan alkohol berlebihan, atau penggunaan obat-obatan tertentu, dapat mengganggu kualitas tidur. Selain itu, gangguan hormon, penyakit kronis, nyeri otot, gangguan pernapasan, hingga gangguan mental seperti kecemasan, depresi, dan bipolar juga kerap menjadi pemicu insomnia.

Cara Mengatasi Insomnia

Insomnia perlu ditangani dengan tepat agar tidak menimbulkan komplikasi lebih lanjut. Salah satu langkah utama adalah menerapkan sleep hygiene, yaitu kebiasaan tidur yang sehat. Cara ini meliputi tidur dan bangun pada jam yang sama setiap hari, menciptakan rutinitas sebelum tidur seperti meditasi atau menulis jurnal, serta menjaga lingkungan kamar tetap nyaman dan minim gangguan.

Penggunaan ponsel, laptop, atau televisi menjelang tidur sebaiknya dihindari karena dapat membuat otak tetap aktif dan sulit beristirahat.

Pola hidup sehat juga berperan penting dalam memperbaiki kualitas tidur. Rutin berolahraga dan mengonsumsi makanan bergizi seimbang dapat membantu tubuh lebih rileks. Namun, olahraga berat dan makan dalam porsi besar sebaiknya dihindari setidaknya 3–4 jam sebelum tidur. Konsumsi kafein, alkohol, dan rokok juga perlu dibatasi.

Tidur siang memang bermanfaat, tetapi durasinya perlu dibatasi. Tidur siang terlalu lama atau dilakukan menjelang sore justru dapat memperburuk insomnia. Idealnya, tidur siang cukup 20–30 menit dan tidak lewat dari pukul 15.00.

Dalam beberapa kasus, suplemen seperti melatonin atau bahan herbal tertentu dapat membantu memperbaiki kualitas tidur. Namun, penggunaannya tidak dianjurkan untuk jangka panjang dan sebaiknya dilakukan dengan pengawasan tenaga medis.

Jika berbagai upaya tersebut tidak membuahkan hasil dan insomnia terus berlanjut, pemeriksaan ke dokter sangat dianjurkan. Penanganan yang tepat dapat membantu memperbaiki pola tidur sekaligus mencegah dampak kesehatan yang lebih serius di kemudian hari.

Sumber: alodokter.com

(naf/kho)