SEMARANG, ifakta.co – Di balik hiruk pikuk kehidupan kampus, tidak semua mahasiswa Universitas Negeri Semarang (UNNES) menjalani hari dengan kondisi yang baik-baik saja. Ada sebagian dari mereka yang diam-diam harus menunda makan, bertahan dengan perut kosong, atau bingung mencari solusi ketika uang bulanan belum juga turun.

Realitas inilah yang melatarbelakangi lahirnya Darurat Nasi Bungkus UNNES (Darbungnes). Komunitas ini terbentuk sejak November 2023, sebagai bentuk kepedulian sosial dengan fokus membantu mahasiswa Universitas Negeri Semarang (UNNES) yang mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan makan.

Humas Darbungnes, M. Allfibriano menuturkan bahwa masalah ekonomi menjadi faktor yang paling sering ditemui.

Iklan

“Paling sering itu karena kondisi ekonomi yang lagi nggak stabil. Ada juga yang uangnya kepakai buat tugas atau proyek kuliah. Bahkan, ada mahasiswa yang benar-benar kesulitan makan karena uang bulanan telat turun,” ujar Alfibriano (27/1).

Kesulitan itu kerap terjadi tanpa suara. Tidak semua mahasiswa berani mengungkapkan kondisinya secara terbuka. Darbungnes hadir sebagai ruang aman, tempat mahasiswa bisa meminta bantuan tanpa rasa takut dihakimi.

Momen paling berkesan bagi para relawan Darbungnes bukanlah angka donasi atau jumlah paket makanan yang dibagikan, melainkan pertemuan langsung dengan para penerima bantuan.

“Pas kami nganterin makanan langsung ke penerima, terus mereka ngucapin terima kasih di tengah kondisi mereka yang lagi nggak baik-baik saja, itu rasanya nyentuh banget. Dari situ kami sadar, bantuan kecil yang kami kasih ternyata punya arti besar,” katanya.

Donasi untuk Darbungnes datang dari berbagai pihak, mulai dari alumni, dosen, mahasiswa UNNES, hingga masyarakat umum. Bentuknya pun beragam, baik berupa uang melalui QRIS maupun bahan pangan seperti beras dan sembako.

Beberapa pelaku usaha turut memberikan dukungan rutin, di antaranya akun Instagram @sotoaldasmg dan @jne_mysha_gunungpati.

Sepanjang perjalanannya, Darbungnes telah membantu sekitar 100 mahasiswa setiap bulan, di luar program Jumat Berkah yang juga rutin dijalankan. Distribusi bantuan dilakukan secara berkala, dengan frekuensi yang menyesuaikan kondisi lapangan. Pada momen tertentu, seperti bulan Ramadan, intensitas penyaluran bahkan meningkat hingga dilakukan hampir setiap hari.

Proses penyaluran bantuan dilakukan secara langsung dan personal. Mahasiswa yang membutuhkan menghubungi Darbungnes melalui WhatsApp atau DM Instagram @darbunguness, kemudian mengisi formulir dan menjalani tahap verifikasi. Setelah itu, makanan atau bahan pangan diantar langsung ke kos atau tempat tinggal penerima.

Meski demikian, perjalanan Darbungnes tidak selalu mulus. Tantangan seperti sulitnya menghubungi penerima saat pengantaran dan faktor cuaca, terutama hujan, kerap memperlambat distribusi bantuan.

Namun, dari semua tantangan itu, relawan Darbungnes justru mendapatkan pelajaran berharga. Mereka menyadari bahwa kepedulian kecil bisa memberi dampak besar bagi mahasiswa lain yang sedang berjuang.

Ke depan, Darbungnes masih memfokuskan kegiatannya untuk mahasiswa UNNES. Meski begitu, peluang perluasan jangkauan tetap terbuka.

“Kami berharap mahasiswa UNNES yang lagi kesulitan soal pangan nggak perlu terlalu khawatir, jadi bisa lebih fokus kuliah dan ngejar gelarnya. Harapan kami, Darbungnes ke depan bisa menjangkau lebih banyak mahasiswa, bahkan di kampus lain,” tambah Alfibriano.

Melalui Darbungnes, kepedulian tidak lagi harus hadir dalam bentuk besar. Cukup dengan donasi, menjadi relawan, atau sekadar menyebarkan informasi, setiap orang bisa ikut menjaga agar tidak ada mahasiswa yang berjuang sendirian menghadapi kesulitan pangan.

(naf/kho)