SEMARANG, ifakta.co – Keterbatasan latar belakang keluarga tak menjadi penghalang bagi Nurlaili Karomah untuk meraih prestasi tertinggi.
Wisudawan terbaik pada Wisuda ke-137 Universitas Negeri Semarang (UNNES) yang digelar pada Sabtu (24/1/2026), ini justru tumbuh dari keluarga dengan pendidikan sederhana. Ayahnya merupakan lulusan SLTP, sementara sang ibu hanya menamatkan pendidikan sekolah dasar.
Meski tidak mengenal dunia kampus dan istilah akademik, kedua orang tua Nurlaili menanamkan nilai perjuangan, ketekunan, dan keyakinan sejak dini.
Iklan
Dalam sambutannya, Nurlaili mengenang masa-masa penuh keraguan saat merasa tertinggal dibandingkan teman-temannya.
“Saya bertanya kepada ibu saya, apakah saya mampu. Ibu saya menjawab sederhana, ‘Bisa, kamu pasti bisa. Wujudkanlah mimpi kami,’” tuturnya.
Kalimat singkat tersebut menjadi kekuatan yang terus menyertai langkah Nurlaili hingga berhasil menyelesaikan studi sarjana Kesehatan Masyarakat dengan indeks prestasi kumulatif 3,99.
Ia menegaskan bahwa toga yang dikenakan pada hari wisuda bukan sekadar simbol kelulusan, melainkan wujud dari doa dan pengorbanan orang tua yang akhirnya menemukan jalannya melalui pendidikan anaknya.
Selama masa kuliah, Nurlaili tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga aktif menghadirkan dampak nyata di masyarakat.
Pengalaman praktik kerja lapangan di Dinas Kesehatan Kabupaten Boyolali mendorongnya merancang program Sinergi Aksi Terpadu Pencegahan Dini Kematian Ibu yang melibatkan pemerintah daerah, desa, dan sekolah.
Ia juga menyusun policy brief penurunan angka kematian ibu hamil yang telah memperoleh sertifikat Hak Kekayaan Intelektual.
Bagi Nurlaili, pencapaian akademik tidak pernah berdiri sendiri.
“Toga yang kami kenakan bukan hanya milik kami, tetapi milik orang tua kami,” ujarnya.
Dari orang tua yang tak pernah menginjak bangku perguruan tinggi, lahir harapan besar agar anaknya melangkah lebih jauh dan memberi manfaat bagi masyarakat.
(naf/kho)



