BANYUMAS, ifakta.co – Desa Kalisari di Kecamatan Cilongok telah lama dikenal sebagai pusat industri tahu terbesar di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah dengan jejak sejarah yang kuat dan kontribusi ekonomi yang signifikan bagi warganya.

Sejak ditetapkan secara resmi oleh Pemerintah Kabupaten Banyumas pada tahun 1990 sebagai sentra industri tahu, penetapan ini ditandai dengan dibangunnya Monumen Pengrajin Tahu sebagai simbol identitas desa dan kehidupan warganya yang mayoritas bergelut di sektor tersebut.

Produksi tahu di Kalisari bukan fenomena baru, tradisi ini telah berkembang secara turun-temurun sejak puluhan tahun silam dan menjadi mata pencaharian utama sebagian besar warga desa.

Iklan

Data penelitian menunjukkan bahwa hingga awal dekade 2020-an jumlah pemilik industri tahu di desa ini mencapai ratusan unit, dengan jumlah rata-rata produksi bahan kedelai yang diolah mencapai puluhan ribu kilogram per hari, memperkuat peran desa ini sebagai tulang punggung usaha tahu di Banyumas.

Keberlangsungan industri tahu di Desa Kalisari turut dirasakan langsung oleh para pelaku usaha yang telah lama berkecimpung di sektor tersebut. 

Salah satunya Wariyati, pengrajin tahu yang telah menekuni usaha ini sejak 1998. Usaha yang dijalaninya merupakan warisan dari orang tuanya dan telah menjadi bagian dari aktivitas ekonomi keluarga besarnya yang sama-sama memproduksi tahu.

“Sebenarnya ini usaha warisan dari orang tua kami,” ujarnya, Sabtu (18/1).

Wariyati menuturkan bahwa menjadi warga Desa Kalisari sekaligus menekuni usaha tahu merupakan sebuah anugerah dalam hidupnya.

Dari usaha tersebut, ia mampu menghidupi keluarga dan mempertahankan keberlangsungan ekonomi rumah tangga selama puluhan tahun. Meski demikian, ia mengakui perjalanan usaha tahu tidak selalu berjalan mulus.

“Ya disyukuri aja, yang penting bisa bisa menutupi operasional dan lebihnya buat kehidupan sehari-hari,” imbuhnya.

Menurutnya, fluktuasi pasar tahu yang tidak menentu serta kenaikan harga bahan baku, terutama kedelai, menjadi tantangan utama yang terus dihadapi para pengrajin.

Kendati demikian, ia tetap bertahan karena industri tahu telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Kalisari.

Selain pembuatan tahu, Desa Kalisari juga menjadi contoh inovasi ramah lingkungan dalam mengelola limbah industri. Pada tahun 2009, instalasi biogas pertama dibangun untuk mengatasi permasalahan limbah tahu yang dahulu pernah mencemari lingkungan desa.

Pengolahan limbah ini kemudian berkembang menjadi unit energi yang dimanfaatkan oleh rumah tangga setempat dan membantu mengurangi dampak pencemaran, sehingga Kalisari kemudian dikenal sebagai desa yang mampu menghasilkan energi mandiri dari limbah tahu.

Dengan sejarah panjang, sikap inovatif terhadap teknologi lingkungan, dan ribuan aktivitas produksi yang berlangsung setiap hari, Desa Kalisari tetap mempertahankan julukannya sebagai pusat industri tahu di Banyumas, sebagai bukti bagaimana usaha tradisional dapat bertahan dan berkembang di tengah tantangan ekonomi dan lingkungan masa kini.

(naf/kho)