BANYUMAS, ifakta.co – Kekeringan akibat fenomena El Nino mendorong ribuan warga Banyumas memperkuat ikhtiar spiritual dan sosial. Mereka menggelar salat Istisqa di Alun-Alun Purwokerto, Senin (12/10), untuk memohon hujan setelah kemarau panjang menghambat ketersediaan air.
Kegiatan tersebut melibatkan Aparatur Sipil Negara (ASN), anggota TNI/Polri, serta masyarakat umum. Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono turut hadir bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda). Dosen UIN Saizu Purwokerto, Dr. KH. Sofyan Mabrur, bertindak sebagai imam. Sementara itu, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Banyumas, KH. Taefur Arofat, menyampaikan khotbah.
Salat Istisqa menjadi salah satu bentuk ikhtiar masyarakat untuk menghadapi dampak kemarau. Namun, pemerintah daerah juga menjalankan langkah konkret guna memenuhi kebutuhan dasar warga, terutama pasokan air bersih.
Iklan
Usai salat, Sadewo mengatakan kegiatan tersebut mencerminkan kebersamaan pemerintah dan masyarakat dalam menghadapi kekeringan. Ia berharap Allah SWT segera menurunkan hujan agar kondisi wilayah Banyumas berangsur pulih.
“Salat ini diikuti hampir dari semua instansi di lingkungan Pemkab Banyumas dan masyarakat umum,” ungkap Sadewo.
Menurutnya, partisipasi berbagai unsur masyarakat menunjukkan kepedulian bersama terhadap dampak kemarau. Selain berdoa, pemerintah terus berupaya menjaga ketersediaan air bagi warga yang mengalami kesulitan.
Pemerintah Kabupaten Banyumas mengerahkan enam truk tangki setiap hari untuk mendistribusikan air bersih ke wilayah terdampak. Armada tersebut menyuplai kebutuhan warga yang mengalami keterbatasan akses air selama kemarau berlangsung.
“Tiap hari ada enam truk tangki yang selalu berkeliling untuk mengirim air bersih ke daerah-daerah yang terdampak kekeringan. Truk ini siaga penuh tiap hari,” terang Sadewo.
Sadewo menyebut kondisi kekeringan akibat El Nino kali ini mengingatkannya pada situasi serupa pada 2023. Karena itu, pemerintah berharap kemarau panjang tidak memperluas dampak kekeringan maupun menambah beban masyarakat.
“Harapan kami, mudah-mudahan tidak terlalu berdampak negatif,” ujarnya.
Ulama Ajak Warga Bersyukur dan Menjaga Lingkungan
Dalam khotbahnya, KH. Taefur Arofat mengajak jamaah menjadikan kemarau panjang sebagai momentum untuk mengevaluasi diri. Ia juga mendorong masyarakat meningkatkan kepedulian terhadap sesama dan lingkungan.
Taefur mengingatkan bahwa air merupakan karunia penting bagi kehidupan. Ketika persediaannya melimpah, masyarakat kerap menganggap air sebagai sesuatu yang biasa. Sebaliknya, saat kemarau membatasi ketersediaannya, warga merasakan langsung betapa pentingnya air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Karena itu, ia mengajak jamaah memperbanyak istigfar, meningkatkan rasa syukur, dan memperbaiki perilaku dalam kehidupan bermasyarakat. Menurutnya, masyarakat perlu memperkuat hubungan spiritual dengan Allah SWT sekaligus menjaga hubungan baik dengan sesama.
Selain itu, Taefur menekankan pentingnya menjaga kelestarian alam. Ia mengingatkan masyarakat agar tidak merusak hutan secara semena-mena. Sebab, kelestarian hutan turut menjaga keseimbangan ekosistem dan mendukung ketersediaan sumber daya air.
Pesan tersebut menjadi relevan ketika kekeringan mulai mengganggu kehidupan masyarakat. Upaya menghadapi kemarau tidak cukup hanya mengandalkan bantuan air bersih. Sebaliknya, masyarakat juga perlu menjaga lingkungan agar keseimbangan alam tetap terpelihara dalam jangka panjang.
Dampak kemarau turut dirasakan warga Banyumas. Padmo, salah seorang jamaah salat Istisqa, menilai musim kering kali ini cukup parah karena hujan tak kunjung turun selama berbulan-bulan.
“Mungkin ini sudah termasuk parah kemaraunya. Kalau tidak salah, sudah sekitar empat bulan tidak hujan,” ujar Padmo.
Pengalaman tersebut menggambarkan besarnya harapan masyarakat terhadap turunnya hujan. Ketersediaan air menjadi kebutuhan mendesak, baik untuk aktivitas rumah tangga maupun kebutuhan sehari-hari lainnya.
Melalui salat Istisqa dan distribusi air bersih secara rutin, pemerintah daerah bersama masyarakat terus berupaya menghadapi dampak kekeringan. Pemerintah juga berharap hujan segera turun sehingga tekanan terhadap pasokan air berkurang.
Dengan demikian, ikhtiar spiritual, bantuan langsung, dan kepedulian terhadap lingkungan menjadi bagian penting dalam menghadapi kemarau panjang di Banyumas.
Pemerintah berharap berbagai langkah tersebut dapat membantu masyarakat melewati masa kekeringan hingga kondisi kembali membaik.
(naf/sib)






