JAKARTA, ifakta.co – Program undian Hanania Vaganza Jilid 3 yang digadang-gadang oleh Hanania Group kini diduga hanya menjadi akal-akalan semata. Pemenang mengaku belum menerima hadiah, sementara pihak perusahaan tak kunjung memberikan kejelasan.

Alih-alih bertanggung jawab, bos Hanania Group justru dikabarkan menghilang. Sikap ini memicu kecurigaan publik bahwa program tersebut sejak awal tidak dijalankan secara transparan.

Masalah tak berhenti di situ. Beredar luas video di media sosial yang menunjukkan gagalnya keberangkatan jamaah umroh pada Maret 2026. Fakta ini memperkuat dugaan bahwa manajemen perusahaan bermasalah secara serius, bukan sekadar lalai.

Iklan

Lebih memprihatinkan, sikap internal perusahaan dinilai tidak profesional. Holy, yang menjabat sebagai Head Executive Marketing, memilih bungkam saat dikonfirmasi wartawan terkait dugaan undian fiktif. Diamnya pihak manajemen justru mempertegas kesan adanya sesuatu yang disembunyikan.

Kondisi ini menjadi tamparan keras bagi pengawasan biro perjalanan umroh di Indonesia. Tawaran manis dengan iming-iming hadiah besar kembali menelan korban, sementara perlindungan terhadap konsumen terlihat lemah.

Masyarakat diminta lebih kritis dan tidak mudah tergiur promo fantastis tanpa kejelasan legalitas dan rekam jejak. Di sisi lain, pemerintah tidak boleh tinggal diam. Jika terbukti melanggar, izin operasional harus dicabut dan pihak yang bertanggung jawab diproses hukum.

Kasus ini membuka pertanyaan besar: kelalaian atau pembiaran? Jika praktik seperti ini terus berulang, publik berhak curiga, lalu siapa sebenarnya yang bermain di balik bisnis travel bermasalah ini? (Jo)