ABU DHABI, ifakta.co – Uni Emirat Arab (UEA) mulai mengambil posisi tegas dalam konflik yang kian memanas di kawasan Teluk Persia. Negara yang sebelumnya dikenal berhati-hati dan berperan sebagai mediator itu kini menyatakan kesiapan untuk terlibat dalam operasi militer.

Langkah ini ditujukan untuk membuka kembali Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi urat nadi distribusi energi global.

Sejumlah pejabat Arab, seperti dilaporkan media internasional, menyebut UEA tengah mempersiapkan dukungan terhadap Amerika Serikat dan sekutunya dalam upaya militer guna mengamankan jalur pelayaran tersebut.

Iklan

Jika terealisasi, UEA berpotensi menjadi negara Teluk pertama yang terlibat langsung sebagai kombatan dalam konflik terbuka, setelah sebelumnya menjadi target serangan Iran.

Selain persiapan militer, UEA juga aktif melakukan manuver diplomatik. Negara itu melobi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk mengesahkan resolusi yang memberi legitimasi terhadap operasi militer. Di saat yang sama, diplomat Emirat mendorong pembentukan koalisi internasional yang melibatkan negara-negara Eropa dan Asia.

Kementerian Luar Negeri UEA menyatakan terdapat konsensus global mengenai pentingnya menjaga kebebasan navigasi di Selat Hormuz. Pernyataan tersebut merujuk pada kecaman internasional atas penutupan jalur tersebut serta serangan yang terjadi di kawasan.

Eskalasi Serangan Iran

Di tengah upaya diplomatik UEA, Iran justru meningkatkan intensitas serangan ke wilayah negara Teluk tersebut. Dalam beberapa hari terakhir, serangan rudal balistik, rudal jelajah, hingga drone dilaporkan meningkat signifikan.

Bahkan, dalam satu hari, jumlah serangan disebut mendekati 50 kali. Secara total, ribuan rudal dan drone telah diluncurkan ke wilayah UEA.

Teheran juga memperingatkan akan menyerang infrastruktur vital negara mana pun yang terlibat dalam operasi militer melawannya.

Dampak serangan tersebut mulai terasa di sektor domestik UEA. Aktivitas penerbangan dan pariwisata menurun, pasar properti terguncang, hingga muncul gelombang cuti paksa dan pemutusan hubungan kerja.

Kondisi ini turut menggoyahkan citra UEA sebagai kawasan yang stabil di tengah dinamika geopolitik kawasan.

Perubahan Sikap UEA

Sebelum konflik terbuka pecah pada akhir Februari, UEA masih melihat Iran sebagai mitra regional yang sulit namun rasional. Bahkan, upaya mediasi sempat dilakukan melalui kunjungan pejabat keamanan Iran ke Abu Dhabi.

Namun, eskalasi konflik mengubah pendekatan tersebut secara drastis. Iran kini dinilai meningkatkan tekanan melalui serangan yang menyasar area sipil, termasuk fasilitas publik.

Perubahan sikap UEA juga tercermin dalam kebijakan domestik, seperti pembatasan terhadap warga Iran serta penutupan sejumlah fasilitas yang memiliki keterkaitan dengan negara tersebut.

Risiko Besar Mengintai

Meski menunjukkan kesiapan militer, langkah UEA dinilai mengandung risiko besar. Iran telah memperingatkan akan meningkatkan agresi terhadap negara-negara yang terlibat dalam operasi militer.

Analis menilai keterlibatan langsung UEA dapat memperpanjang konflik serta meningkatkan ancaman terhadap infrastruktur vital dan stabilitas ekonomi.

Di sisi lain, efektivitas operasi militer untuk membuka Selat Hormuz juga dipertanyakan. 

Sejumlah pihak menilai pengamanan jalur tersebut tidak hanya bergantung pada kekuatan laut, tetapi juga kontrol wilayah daratan di sekitarnya.

Kondisi ini membuat skenario operasi militer dinilai kompleks dan berisiko tinggi dalam jangka panjang.

(AMN)