JAKARTA, iFakta.co – Sebuah pesawat komando dan kendali milik Amerika Serikat (AS) jenis E-3 Sentry dilaporkan hancur dalam serangan yang dikaitkan dengan Iran di sebuah pangkalan udara di Arab Saudi.
Laporan tersebut mengemuka dari sejumlah sumber militer internasional, yang menyebut pesawat berteknologi tinggi itu menjadi target dalam eskalasi ketegangan di kawasan Timur Tengah.
E-3 Sentry merupakan pesawat Airborne Warning and Control System (AWACS) yang berfungsi sebagai pusat komando udara bergerak. Pesawat ini memiliki kemampuan pengawasan, deteksi, hingga pengendalian operasi tempur secara terintegrasi.
Iklan
Dikutip dari Military, Senin (30/3/2026), E-3 mampu mendeteksi dan melacak pergerakan musuh dari jarak jauh, bahkan sebelum ancaman mendekati wilayah pertahanan. Sistem ini juga dapat mengarahkan pesawat tempur untuk melakukan intersepsi secara presisi.
Selama ini, E-3 Sentry dikenal sebagai salah satu tulang punggung operasi militer udara AS dan NATO. Pesawat ini kerap digunakan dalam berbagai misi global karena kemampuannya merespons krisis secara cepat dan efektif.
Secara teknologi, E-3 dilengkapi radar canggih berbentuk kubah (rotodome) berdiameter sekitar 9,1 meter yang terpasang di atas badan pesawat. Radar ini mampu memantau area luas, mulai dari permukaan bumi hingga lapisan stratosfer, dengan jangkauan lebih dari 375 kilometer.
Selain radar, pesawat ini dibekali sistem avionik, navigasi, komunikasi, serta sensor canggih yang mampu mengumpulkan dan menyajikan data medan perang secara real time. Informasi tersebut mencakup posisi musuh maupun kekuatan kawan, baik di udara maupun di laut.
Data yang dihimpun kemudian dapat dikirim ke pusat komando utama, bahkan hingga ke tingkat pimpinan tertinggi seperti presiden dan menteri pertahanan dalam situasi krisis.
E-3 Sentry juga memiliki daya tahan operasi hingga delapan jam tanpa pengisian bahan bakar, dan dapat diperpanjang melalui pengisian di udara. Fleksibilitas ini membuatnya lebih unggul dibandingkan sistem radar berbasis darat.
Dari sisi spesifikasi, pesawat ini menggunakan rangka Boeing 707 yang dimodifikasi, dengan empat mesin turbofan Pratt & Whitney. E-3 mampu menjangkau lebih dari 9.000 kilometer dengan ketinggian operasi di atas 29.000 kaki.
Dalam operasi tempur, pesawat ini diawaki oleh empat kru penerbangan serta 13 hingga 19 personel misi yang bertugas mengelola sistem pengawasan dan kendali pertempuran.
Meski laporan penghancuran pesawat ini menjadi perhatian global, belum ada konfirmasi resmi dari pemerintah AS terkait insiden tersebut.
(AMN)



