BANDUNG, ifakta.co – Ganesha Rahman Liswantoro, mahasiswa Program Studi Teknik Fisika, Fakultas Teknologi Industri, Institut Teknologi Bandung (ITB), meraih Juara 1 Mahasiswa Berprestasi (Mapres) ITB 2026. Capaian ini menjadi tonggak penting dalam perjalanan akademik dan pengembangan dirinya di berbagai bidang.
Dilansir dari laman ITB, seleksi final hingga pengumuman Mapres ITB 2026 digelar pada Sabtu (28/3) di Kampus Ganesha. Selanjutnya, Ganesha akan mewakili ITB pada ajang tingkat LLDIKTI Wilayah IV pada pertengahan April 2026 dengan membawa misi “ITB Berdampak”.
Mahasiswa yang akrab disapa Aga ini dikenal aktif mengeksplorasi berbagai peluang, mulai dari organisasi, kompetisi, hingga pengembangan diri. Ia mengaku tidak pernah secara khusus menargetkan gelar Mapres, melainkan lebih fokus pada proses dan pengalaman.
Iklan
“Kalau ada hal yang menarik, aku coba ikut. Aku tidak pernah menyangka bisa menjadi mapres,” ujarnya.
Sejak kecil, Aga tumbuh dalam lingkungan keluarga yang menjunjung tinggi pendidikan. Ia menempuh pendidikan di sekolah unggulan di Jakarta dan menunjukkan minat di bidang akademik maupun nonakademik. Ia menyebut dirinya sebagai pribadi yang ingin berkembang di banyak bidang.
“Aku dari dulu merupakan tipe orang yang jack of all trades. Dari segala sisi tersebut, aku mencoba untuk bisa mengusahakan itu,” tuturnya.
Selama masa sekolah, ia aktif mengikuti berbagai ajang seperti Olimpiade Sains Nasional (OSN) Fisika, kompetisi debat bahasa Inggris, hingga lomba musik internasional.
Kebiasaan tersebut berlanjut hingga bangku kuliah, yang dibuktikan dengan sejumlah prestasi, di antaranya Juara 1 International Paper Competition “Youth Innovation Competition 2024”, Juara 1 Business Case Competition “Marine Icon 2024”, serta Juara 1 Business Plan Competition Youth Entrepreneur Project (YEP) 2025, lengkap dengan penghargaan Best Feasible Project dan Best Presentation.
Selain itu, ia juga memperoleh Hibah Startup Mahasiswa melalui Program Mahasiswa Wirausaha 2025 serta beasiswa SOBAT BUMI dari Pertamina. Berbagai capaian tersebut mencerminkan pengembangan diri yang tidak hanya berfokus pada akademik, tetapi juga inovasi dan kewirausahaan.
Aga mengungkapkan bahwa titik baliknya terjadi saat menjalani Tahap Persiapan Bersama (TPB) di ITB. Setelah sebelumnya jarang meraih kemenangan saat SMA, ia berhasil meraih juara pertama dalam sebuah kompetisi di masa TPB.
“Itu membuatku merasa tercerahkan. Ternyata seru juga ikut lomba-lomba,” ujarnya.
Di tingkat internasional, Aga mencatatkan prestasi melalui penelitian terkait sistem pendinginan baterai kendaraan listrik.
Ia menjadi penulis pertama dalam publikasi ilmiah berjudul “Alternative Liquid Cooling Agents for Optimization of Electric Vehicle Battery Thermal Management System: A Comprehensive Review” yang dipresentasikan pada Konferensi TIME-E 2025 dan diterbitkan dalam jurnal IEEE.
Dalam forum tersebut, ia menjadi satu-satunya mahasiswa sarjana yang tampil di hadapan akademisi internasional.
“Awalnya minder, tapi itu menjadi motivasi untuk terus berkembang,” tuturnya.
Ia juga terlibat dalam pengembangan teknologi fog capture untuk mengubah kabut menjadi air layak minum yang direncanakan diterapkan di kawasan Gunung Bromo. Selain itu, ia tengah mengembangkan proyek stabilisasi drone berbasis computer vision untuk kebutuhan logistik.
Di tengah kesibukannya, Aga menekankan pentingnya metode belajar yang efektif. Ia menerapkan konsep flow state untuk meningkatkan fokus dan produktivitas, serta prinsip Pareto (80/20) dalam mengelola waktu belajar.
“Flow state itu suatu keadaan ketika kamu benar-benar fokus dalam suatu pekerjaan. Berdasarkan riset, itu bisa membuat kerja otak jauh lebih optimal,” ujarnya.
Ia juga menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan hidup, termasuk memastikan waktu istirahat yang cukup.
“Untuk tidur aku usahakan 8 jam, karena itu non-negotiable,” katanya.
Aga tidak menutup mata terhadap pengalaman kegagalan yang pernah dialaminya, termasuk saat gagal melanjutkan studi ke luar negeri. Namun, ia menjadikan hal tersebut sebagai momentum untuk memperbaiki diri.
“Kegagalan itu bukan kebalikan dari sukses, tapi bagian dari sukses,” ujarnya.
Menurutnya, kesuksesan merupakan hasil dari kombinasi kerja keras, metode yang tepat, dan peluang.
“Sukses itu sama dengan kerja keras × metode × opportunity,” katanya.
Dalam perjalanannya, Aga berpegang pada prinsip untuk tidak hanya mengejar pencapaian pribadi, tetapi juga memberikan dampak positif bagi orang lain. Ia bercita-cita menjadi insinyur di bidang instrumentasi dan kontrol, baik di industri maupun robotika.
Melalui prestasi yang diraih, Ganesha Rahman Liswantoro menjadi contoh mahasiswa yang mampu mengoptimalkan potensi diri melalui eksplorasi, konsistensi, dan keberanian menghadapi kegagalan. Ia pun berpesan kepada mahasiswa lain untuk tidak takut mencoba dan terus melangkah.
“Kalau kamu sedang berusaha, kamu pasti akan gagal. Tapi jangan berhenti. Terus jalan dan pastikan kamu menggunakan metode yang benar,” ujarnya.
(naf/kho)

