JAKARTA, ifakta.co – Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI) mengungkap peningkatan kasus penyakit ginjal kronis pada kelompok usia muda. Jika sebelumnya penyakit ini lebih banyak dialami lansia, kini pasien berusia 20–40 tahun semakin banyak yang mengalami penurunan fungsi ginjal hingga membutuhkan terapi cuci darah.

Dokter spesialis penyakit dalam RSUI, dr. Anindia Larasati, Sp.PD., menjelaskan bahwa peningkatan kasus ini berkaitan erat dengan perubahan pola hidup serta tingginya prevalensi penyakit tidak menular pada usia produktif.

Penyakit ginjal kronis sendiri merupakan kondisi penurunan fungsi ginjal secara bertahap yang berlangsung lebih dari tiga bulan.

Iklan

Menurutnya, pada tahap awal penyakit ini sering tidak menimbulkan gejala yang signifikan, sehingga banyak penderita tidak menyadari kondisinya hingga memasuki tahap lanjut.

“Ketika fungsi ginjal menurun, racun dalam tubuh dapat menumpuk dan memicu berbagai komplikasi kesehatan. Kondisi ini sering kali tidak disadari pada tahap awal karena gejalanya sangat minimal, pemeriksaan kesehatan secara berkala menjadi langkah penting untuk mendeteksi gangguan ginjal sejak dini,” jelas dr. Anindia dalam laman UI, dikutip, pada Selasa (31/3).

Sejumlah lembaga kesehatan global seperti Centers for Disease Control and Prevention (CDC) dan National Kidney Foundation menyebutkan beberapa gejala yang patut diwaspadai, di antaranya mudah lelah, pembengkakan pada kaki atau wajah, perubahan warna atau volume urin, tekanan darah tinggi, serta mual yang disertai penurunan nafsu makan. Ginjal memiliki peran vital dalam tubuh, mulai dari menyaring limbah dalam darah, menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit, hingga mengatur tekanan darah.

CDC juga menegaskan bahwa penyebab utama penyakit ginjal kronis adalah diabetes dan hipertensi yang terjadi sejak usia muda. Hal ini diperkuat oleh laporan International Diabetes Federation (IDF) yang menunjukkan peningkatan kasus diabetes pada kelompok usia produktif, yang berkontribusi terhadap meningkatnya risiko gangguan ginjal.

Selain itu, hipertensi yang tidak terkontrol dalam jangka panjang dapat merusak pembuluh darah kecil di ginjal. Faktor lain yang turut berperan adalah gaya hidup tidak sehat, termasuk konsumsi obat antiinflamasi atau suplemen tanpa pengawasan medis dalam jangka panjang.

Untuk mencegah penyakit ginjal, berbagai lembaga seperti World Health Organization (WHO), CDC, dan National Kidney Foundation merekomendasikan penerapan gaya hidup sehat.

Langkah-langkah tersebut meliputi rutin memeriksa tekanan darah dan gula darah, menjaga berat badan ideal, membatasi asupan garam dan gula, memenuhi kebutuhan cairan, tidak merokok, serta menghindari penggunaan obat tanpa anjuran tenaga medis.

Jika tidak ditangani sejak dini, penyakit ginjal kronis dapat berkembang menjadi gagal ginjal tahap akhir yang memerlukan terapi lanjutan seperti hemodialisis, dialisis peritoneal, hingga transplantasi ginjal.

Sebagai upaya penanganan, RSUI menyediakan layanan skrining dan perawatan komprehensif untuk membantu masyarakat melakukan deteksi dini serta mendapatkan penanganan yang tepat.

Peningkatan kasus penyakit ginjal kronis pada usia muda menjadi peringatan penting bagi masyarakat untuk lebih memperhatikan gaya hidup dan kesehatan sejak dini.

Melalui layanan yang tersedia, RSUI berkomitmen menghadirkan pelayanan kesehatan berkualitas dengan mengutamakan keselamatan pasien serta penanganan medis yang optimal.

(nad/kho)