JAKARTA, ifakta.co –Upaya menjaga keseimbangan ekosistem perairan dilakukan Universitas Indonesia melalui kegiatan penangkapan ikan invasif di Danau Kenanga pada Minggu (29/3).
Operasi lingkungan tersebut menyasar dua jenis ikan non-asli, yakni ikan sapu-sapu (Loricariidae) dan ikan red devil (Amphilophus labiatus), yang berpotensi mengganggu stabilitas ekosistem danau.
Ikan invasif merupakan spesies yang bukan berasal dari habitat asli suatu ekosistem, namun mampu berkembang pesat hingga mendominasi lingkungan. Secara ilmiah, keberadaan spesies ini dapat memicu persaingan sumber daya, meningkatkan predasi, serta mengubah struktur habitat perairan.
Iklan
Selain itu, aktivitas ikan invasif juga berdampak pada kondisi fisik lingkungan, seperti mengikis substrat dasar danau. Kondisi ini berpotensi merusak habitat organisme lain serta meningkatkan tingkat kekeruhan air.
Untuk menekan populasi kedua jenis ikan tersebut, kegiatan ini mengedepankan metode penangkapan yang disesuaikan dengan karakteristik area danau.
Di bagian inlet, proses penangkapan dilakukan secara manual menggunakan tangan dan jaring. Sementara di area tengah danau, penangkapan dilakukan dengan bantuan perahu dan jala guna menjangkau wilayah yang lebih luas dan dalam.
Seluruh ikan hasil tangkapan selanjutnya dibawa keluar kawasan Universitas Indonesia untuk dimusnahkan. Langkah ini dilakukan sebagai bentuk pencegahan agar ikan tidak kembali dilepas ke perairan dan tidak menyebar lebih luas.
Sebagai bagian dari upaya pemulihan ekosistem, Universitas Indonesia juga melakukan penebaran ikan lokal seperti tawas dan nilem. Kedua spesies ini memiliki fungsi ekologis penting, antara lain dalam mengendalikan pertumbuhan alga serta menjaga keseimbangan rantai makanan di perairan.
Kegiatan ini melibatkan sekitar 50 personel yang berasal dari berbagai unsur. Dukungan utama datang dari jajaran Kodam Jaya dan Kodim 0508 Depok.
Sementara itu, pihak Universitas Indonesia berperan melalui Direktorat Kesejahteraan Kampus (DKK) yang menangani aspek keselamatan dan keamanan, serta Direktorat Operasi, Pemeliharaan Fasilitas, dan Manajemen Aset (DOPFMA) yang menyediakan dukungan fasilitas lokasi.
Melalui operasi terpadu ini, diharapkan kondisi Danau Kenanga dapat kembali pulih sebagai ekosistem perairan yang sehat, stabil, dan berkelanjutan.
Selain itu, kegiatan ini juga menjadi contoh kolaborasi antara institusi pendidikan dan berbagai pemangku kepentingan dalam pengelolaan lingkungan berbasis keberlanjutan.
(naf/kho)



