SEMARANG, ifakta.co – Dua mahasiswa Program Studi Ilmu Politik Universitas Negeri Semarang (UNNES) angkatan 2023, Anindya Khadifah dan Afifah Zahrah, memperoleh kesempatan mengikuti program magang internasional di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Filipina yang berlokasi di Manila.

Melalui program magang yang dilaksanakan selama satu bulan pada 9 Maret 2026 tersebut, keduanya dapat melihat secara langsung dinamika kerja diplomasi di lingkungan perwakilan Indonesia di luar negeri.

Selama berada di KBRI Filipina, Anindya dan Afifah terlibat dalam berbagai kegiatan yang berkaitan dengan aktivitas diplomatik maupun pelayanan kepada masyarakat.

Iklan

Keduanya berkesempatan mengamati berbagai tugas yang dijalankan oleh kedutaan, mulai dari koordinasi internal, pelayanan kepada warga negara Indonesia (WNI), hingga keterlibatan dalam sejumlah agenda yang bertujuan memperkuat hubungan bilateral antara Indonesia dan Filipina.

Selain mempelajari aktivitas administratif serta fungsi diplomatik kedutaan, keduanya juga mengikuti sejumlah kegiatan yang berkaitan dengan diplomasi lunak atau soft diplomacy. Pendekatan ini menekankan penggunaan budaya, dialog, serta interaksi sosial sebagai sarana memperkuat citra positif Indonesia di kancah internasional.

Selama mengikuti program magang, Anindya dan Afifah juga berkesempatan menyaksikan berbagai kegiatan diplomatik yang berlangsung di lingkungan kedutaan. Kegiatan tersebut meliputi forum pertemuan resmi, aktivitas komunitas, hingga acara publik yang melibatkan berbagai pihak dari tingkat nasional maupun internasional.

Beragam kegiatan tersebut memberikan gambaran mengenai praktik diplomasi modern yang tidak hanya bertumpu pada negosiasi politik formal, tetapi juga memanfaatkan pendekatan sosial, budaya, serta komunikasi publik untuk membangun hubungan antarnegara.

Anindya Khadifah mengungkapkan bahwa pengalaman magang ini memberikan pemahaman baru mengenai praktik hubungan internasional yang sebelumnya hanya dipelajari secara teoritis di bangku perkuliahan.

“Diplomasi tidak hanya dilakukan melalui perundingan antarnegara, tetapi juga melalui interaksi masyarakat, promosi budaya, dan kerja sama lintas komunitas yang berkontribusi pada pembangunan berkelanjutan,” ujarnya, dikutip dari laman Unnes (9/3).

Sementara itu, Afifah Zahrah menilai pengalaman mengikuti berbagai kegiatan di lingkungan kedutaan memberikan gambaran mengenai kompleksitas kerja diplomasi di tingkat global.

“Diplomasi lunak memiliki peran strategis dalam membangun hubungan yang harmonis antarnegara sekaligus memperkuat kerja sama internasional di berbagai bidang,” kata Afifah.

Program magang internasional ini diharapkan dapat menjadi sarana pembelajaran bagi mahasiswa untuk memperluas perspektif global, meningkatkan kapasitas akademik, serta memahami secara langsung praktik diplomasi Indonesia di kawasan Asia Tenggara.

Selain itu, pengalaman tersebut diharapkan dapat mendorong lebih banyak generasi muda untuk berkontribusi dalam memperkuat peran diplomasi Indonesia di tingkat internasional.

(naf/kho)