SURABAYA, ifakta.co – Tim mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) berhasil meraih juara dua pada kompetisi esai nasional dalam ajang Ramadhan Berkah Mardliyyah (RBM) Festival 1447 H. Kompetisi tersebut diselenggarakan oleh Universitas Gadjah Mada (UGM) pada Sabtu (7/3).
Tim tersebut terdiri dari tiga mahasiswa lintas fakultas, yakni Nurin Mulyani dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Firaz Athallah Muflih dari Fakultas Keperawatan (FKp), serta Ghania Kyla Al Hasbi yang juga berasal dari Fakultas Keperawatan (FKp).
Prestasi tersebut sekaligus mencerminkan kepedulian mahasiswa UNAIR terhadap isu toleransi yang masih kerap disalahpahami di tengah masyarakat. Firaz Athallah Muflih menjelaskan bahwa pemahaman tentang toleransi di kalangan masyarakat masih sebatas pada level permukaan.
Iklan
“Nah, dalam kehidupan sehari-hari kita sering menjumpai isu toleransi yang muncul sebagai bahan bercandaan. Padahal, seharusnya toleransi dipandang sebagai bentuk penghormatan yang nyata atas perbedaan yang ada,” ujarnya, dikutip dari laman UNAIR (11/3).
Firaz menilai bahwa sikap toleransi di kalangan remaja saat ini mulai tergerus oleh dinamika era digital. Kondisi tersebut mendorong Tim Kamsia untuk mengangkat gagasan inovatif melalui esai berjudul FAITHVENTURE: Komunitas Travelling Edukatif Berbasis Modul Toleransi Interaktif dan Pembuatan Konten Digital di Tempat Ibadah Lintas Agama untuk Membangun Harmoni Remaja Multikultur Indonesia.
Firaz juga mengungkapkan bahwa keikutsertaan Tim Kamsia dalam kompetisi tersebut tidak hanya untuk meraih prestasi, tetapi juga sebagai sarana memperluas wawasan sekaligus melatih kemampuan menulis karya ilmiah.
Menurutnya, pengalaman pertama dalam mengikuti kompetisi kepenulisan ilmiah juga menjadi motivasi tersendiri bagi tim untuk mencoba terjun ke dunia kompetisi akademik.
“Sebelumnya, kami memang sudah membentuk tim. Nah, ketika mengetahui informasi tentang kompetisi ini kami sangat antusias untuk berpartisipasi dan mengenal lebih dalam tentang dunia kepenulisan ilmiah,” ungkapnya.
Proses Penulisan Esai
Dalam proses penyusunan esai, Tim Kamsia menerapkan pembagian tugas agar pekerjaan dapat diselesaikan secara lebih efektif. Setiap anggota memiliki tanggung jawab masing-masing sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.
Nurin Mulyani menjelaskan bahwa ia bersama Firaz bertugas melakukan riset mendalam terkait isu toleransi yang menjadi fokus tulisan mereka. Sementara itu, Ghania yang memiliki kemampuan dalam bidang desain ditugaskan untuk mengerjakan visualisasi konsep dan desain produk.
“Jadi, kami menyiasati dengan pembagian tugas agar esai kami cepat selesai. Saya dengan Firaz bertugas untuk melakukan riset lebih dalam terkait topik toleransi yang kami angkat. Sedangkan, Ghania yang sudah memiliki kemampuan editing kami arahkan dia untuk mengerjakan visualisasi dari desain produk kami,” ujarnya.
Meski demikian, proses penyusunan karya ilmiah tersebut tidak terlepas dari berbagai tantangan. Ghania menuturkan bahwa perbedaan jadwal perkuliahan serta kendala komunikasi menjadi tantangan utama dalam mengatur diskusi dan perkembangan penulisan esai.
Melalui pengalaman mengikuti kompetisi tersebut, Tim Kamsia berharap mahasiswa UNAIR lainnya dapat lebih berani mencoba berbagai kompetisi akademik, khususnya di bidang kepenulisan ilmiah.
“Coba terus mulai dari hal-hal kecil yang mengarahkan kita pada kesuksesan. Jangan pernah takut untuk mencoba dan jangan pernah patah semangat di dalam proses kita mencoba hal-hal baru itu,” tuturnya.
(naf/kho)



