YOGYAKARTA, ifakta.co – Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) melantik 33 dietisien baru dalam prosesi pelantikan profesi ahli gizi yang digelar di Auditorium FK-KMK UGM, pada Rabu (11/3).

Kehadiran para dietisien ini diharapkan dapat memperkuat upaya penanganan masalah gizi sekaligus menjawab tantangan meningkatnya kasus obesitas di tingkat global yang diproyeksikan dapat menyerang hingga 4 miliar orang pada 2035.

Dekan FK-KMK UGM, Prof. dr. Yodi Mahendradhata, menegaskan bahwa para lulusan dietisien dipersiapkan untuk berperan sebagai garda terdepan dalam sistem kesehatan, khususnya dalam upaya menjaga kesehatan masyarakat melalui pendekatan gizi.

Iklan

Menurutnya, peran dietisien sangat penting dalam membantu masyarakat memahami pola makan yang sehat serta menekan risiko berbagai penyakit kronis seperti diabetes dan penyakit jantung.

“Dietisien baru berdiri di garis depan sistem kesehatan, mendampingi pasien dengan empati, membantu masyarakat memahami makanan kesehatan, serta membantu pendekatan gizi yang lebih manusiawi serta berbasis ilmu pengetahuan,” ungkapnya.

Yodi juga mengingatkan bahwa sumpah profesi yang diucapkan para dietisien bukan sekadar formalitas, tetapi merupakan komitmen moral dan profesional untuk menjunjung tinggi integritas serta ilmu pengetahuan dalam praktik kerja mereka.

Ia menambahkan, dalam menjalankan profesinya nanti, para dietisien akan berhadapan langsung dengan berbagai persoalan kesehatan yang dialami masyarakat. Hal ini menuntut kepekaan dan dedikasi tinggi dalam membantu pasien memperbaiki pola hidup.

“Dalam praktiknya baik di rumah sakit, puskesmas, komunitas, industri pangan maupun dunia penelitian, Anda akan bertemu dengan banyak cerita kehidupan. Di balik semuanya itu, ada harapan untuk hidup lebih baik, serta kualitas hidup yang lebih bermartabat,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Program Studi Pendidikan Profesi Dietisien FK-KMK UGM, Dr. Mirza Hapsari Sakti Titis Penggalih S.Gz., Dietisien, MPH, melaporkan bahwa seluruh lulusan pada periode ini berasal dari jalur Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL). Sebagian besar di antaranya merupakan praktisi yang telah bekerja, yakni sekitar 93,34 persen, sementara sisanya sekitar 6 persen merupakan akademisi.

Ia mengapresiasi para mahasiswa profesi yang mampu menyelesaikan studi di tengah kesibukan pekerjaan yang masih dijalani.

“Rata-rata indeks prestasi kumulatif (IPK) lulusan berada di angka 3,68 dengan rata-rata lama studi satu tahun. Meski menempuh jalur profesi di tengah kesibukan pekerjaan, para lulusan membuktikan semangat pembelajar sepanjang hayat dengan rata-rata kelulusan di usia 34 tahun 6 bulan,” jelasnya.

Pada periode ini, Mawar Lestari tercatat sebagai lulusan terbaik pertama dengan IPK 3,92. Posisi kedua diraih oleh Pinka Cahyati Wibowo dengan IPK 3,9, sementara peringkat ketiga ditempati Tri Catur Nugrahasari dengan IPK 3,84.

Dengan pelantikan tersebut, FK-KMK UGM kini telah meluluskan total 428 dietisien sejak program ini pertama kali diselenggarakan pada 2007. Pada periode kali ini, komposisi lulusan masih didominasi perempuan, yakni 32 orang perempuan dan satu orang laki-laki. Secara keseluruhan, jumlah lulusan dietisien UGM hingga saat ini terdiri dari 391 perempuan dan 37 laki-laki.

Dalam pesannya, Mirza juga mengingatkan para lulusan untuk terus membawa nilai-nilai yang mereka peroleh selama menempuh pendidikan di UGM ke dalam dunia profesional.

Ia juga mendorong para dietisien baru untuk aktif membangun jejaring melalui berbagai organisasi profesi, seperti Persatuan Ahli Gizi (Persagi), Asosiasi Nutrisionis Indonesia (AsNI), serta Indonesia Sport Nutritionist and Association (ISNA).

“Bergabunglah dengan organisasi profesi dalam rangka pengembangan kompetensi dan memperkuat jejaring organisasi profesi. Keberadaan Anda semua sangat ditunggu untuk mewarnai peran serta ahli gizi Indonesia. Siapa lagi kalau bukan kita yang mengisinya,” pungkasnya.

(naf/kho)