YOGYAKARTA, ifakta.co – Upaya pemulihan lingkungan pascabanjir bandang di Desa Seuneubok Aceh, Kecamatan Bendahara, Kabupaten Aceh Tamiang, terus dilakukan melalui berbagai inisiatif bersama.
Salah satunya datang dari mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kemanusiaan kolaborasi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dan Universitas Samudra (Unsam)yang menggelar aksi penghijauan di wilayah tersebut.
Dikutip dari rilis UNY, mahasiswa menanam sebanyak 60 bibit pohon pucuk merah di sejumlah titik desa. Program ini dilaksanakan pada pertengahan masa pengabdian mahasiswa dengan melibatkan partisipasi aktif masyarakat setempat.
Iklan
Proses penanaman dilakukan secara gotong royong oleh mahasiswa dan warga desa. Kegiatan ini menjadi bentuk kepedulian bersama dalam memulihkan kondisi lingkungan yang terdampak banjir bandang beberapa waktu lalu.
Sebanyak 60 bibit pohon pucuk merah didistribusikan di tiga dusun yang ada di Desa Seuneubok Aceh, yaitu Dusun Kerani Hasyim, Dusun Petua Puteh, dan Dusun Imam Ma’un. Penanaman difokuskan di area permukiman warga serta sepanjang akses jalan desa yang sebelumnya mengalami kerusakan vegetasi akibat bencana tersebut.
Mahasiswa KKN Kemanusiaan, Shafira Nadiyanti, mengatakan kegiatan penghijauan ini tidak hanya bertujuan memperindah lingkungan, tetapi juga menjadi upaya meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga kelestarian alam.
“Banjir yang terjadi sebelumnya menyebabkan banyak tanaman rusak dan hilang. Melalui penanaman ini kami berharap lingkungan desa dapat kembali hijau sekaligus menumbuhkan kesadaran bersama tentang pentingnya menjaga ekosistem,” ujarnya dikutip pada, Selasa (10/3).
Banjir bandang yang melanda kawasan tersebut sebelumnya tidak hanya berdampak pada infrastruktur dan aktivitas sosial masyarakat, tetapi juga mengurangi tutupan vegetasi di sejumlah titik desa.
Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko erosi serta menurunkan kualitas lingkungan apabila tidak segera dilakukan langkah pemulihan.
Dalam pelaksanaannya, mahasiswa dan warga terlebih dahulu menyiapkan lahan serta menentukan titik tanam sebelum bibit pohon ditanam secara bersama-sama.
Setelah penanaman, perawatan tanaman juga dilakukan secara rutin dengan penyiraman setiap sore hari agar bibit dapat tumbuh dengan baik.
Jenis pohon pucuk merah dipilih karena dinilai mudah dirawat, memiliki daya tahan yang cukup baik terhadap kondisi lingkungan, serta mampu memperindah kawasan desa melalui warna daunnya yang khas.
Datok Penghulu Desa Seuneubok Aceh turut mengapresiasi inisiatif mahasiswa yang terlibat dalam upaya pemulihan lingkungan di wilayahnya. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi bukti kepedulian generasi muda terhadap keberlanjutan lingkungan desa.
“Ini bukan sekadar menanam pohon, tetapi juga menanam harapan agar desa kita kembali hijau dan lebih tangguh menghadapi potensi bencana di masa depan,” ujarnya.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN Kemanusiaan tidak hanya menjalankan program pengabdian kepada masyarakat, tetapi juga memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat desa dalam menjaga kelestarian lingkungan.
Program penghijauan tersebut juga sejalan dengan upaya mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin 13 tentang penanganan perubahan iklim melalui aksi nyata yang dimulai dari tingkat desa dan dilakukan secara partisipatif bersama masyarakat.
(naf/kho)



