BANDUNG, ifakta.co – Hilirisasi riset di perguruan tinggi kini semakin dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Salah satunya melalui inovasi hunian layak yang dikembangkan oleh dosen dan peneliti Arsitektur Fakultas Pendidikan Teknologi dan Industri (FPTI) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Dr. Eng. Beta Paramita.

Melalui Program RAFLESIA, Dr. Beta menghadirkan konsep rumah yang terjangkau, sehat, dan berkelanjutan bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Program ini menjadi contoh bagaimana hasil penelitian akademik dapat diimplementasikan langsung untuk menjawab kebutuhan riil di masyarakat.

Hingga akhir tahun 2025, program tersebut telah merealisasikan pembangunan lebih dari 70 unit rumah yang tersebar di enam provinsi, yakni Aceh, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, Gorontalo, dan Kalimantan Selatan.

Iklan

Inovasi ini menunjukkan bahwa teknologi bangunan yang dikembangkan di perguruan tinggi dapat diterapkan secara luas untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

RAFLESIA sendiri merupakan pengembangan lanjutan dari riset material cat reflektif surya yang dikembangkan di dalam negeri. Teknologi tersebut tidak hanya digunakan sebagai pelapis bangunan, tetapi menjadi bagian dari strategi desain rumah yang dirancang khusus untuk menghadapi kondisi iklim tropis.

“RAFLESIA dirancang untuk menyediakan hunian yang aman dan sehat. Dengan memanfaatkan ventilasi alami serta material ringan yang efisien energi, kita dapat menekan biaya konstruksi sekaligus mengurangi beban tagihan listrik rumah tangga dalam jangka panjang,” ujar Beta, dikutip dari rilis UPI, Senin (9/3).

Ia menjelaskan bahwa pengembangan hunian RAFLESIA memanfaatkan hasil riset tersebut dalam skala sistem bangunan.

Dengan demikian, teknologi pendinginan pasif tidak hanya diterapkan pada material tertentu, tetapi menjadi bagian dari pendekatan desain rumah yang terintegrasi.

Menurutnya, konsep RAFLESIA dirancang untuk menciptakan hunian yang aman, sehat, serta adaptif terhadap kondisi iklim tropis.

Perencanaan bangunan mempertimbangkan berbagai aspek penting, seperti ventilasi alami, pencahayaan yang optimal, serta penggunaan material ringan yang hemat energi.

Pendekatan tersebut dinilai mampu menekan biaya pembangunan sekaligus mengurangi konsumsi energi rumah tangga dalam jangka panjang. Prinsip ini juga sejalan dengan agenda pembangunan berkelanjutan serta upaya mitigasi perubahan iklim yang menjadi perhatian nasional.

“Keberhasilan program ini tidak lepas dari model kolaborasi multipihak yang melibatkan industri material bangunan, tim teknis arsitektur, dan partisipasi aktif warga setempat.

Proses ini menciptakan transfer pengetahuan, sehingga warga memiliki kapasitas untuk merawat dan memahami kemandirian energi di hunian mereka,” ungkap Beta.

Dari sisi kesehatan, sejumlah keluarga yang menempati rumah RAFLESIA juga melaporkan adanya penurunan risiko penyakit yang disebabkan oleh kelembapan tinggi dan panas berlebih di dalam rumah. Kondisi hunian yang lebih sehat dinilai turut mendukung peningkatan produktivitas keluarga sehari-hari.

Memasuki tahun 2026, program RAFLESIA direncanakan akan memperluas implementasinya ke berbagai kota lain di Indonesia.

Pengembangan selanjutnya akan tetap menitikberatkan pada inovasi teknologi tepat guna serta efisiensi biaya guna menjawab tantangan kebutuhan perumahan nasional.

(naf/kho)