SURABAYA, ifakta.co – Puasa Ramadan tidak hanya memiliki makna spiritual sebagai bentuk ibadah kepada Tuhan, tetapi juga memberikan dampak positif bagi kesehatan mental.
Dalam perspektif psikologi, praktik menahan lapar dan dahaga selama Ramadan dapat menjadi sarana melatih pengendalian diri, regulasi emosi, serta ketahanan mental seseorang.
Dekan Fakultas Psikologi (Fpsi) Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Dr. Diana Rahmasari, Psikolog, menjelaskan bahwa puasa dapat dipahami sebagai latihan self-regulation atau regulasi diri yang menyeluruh.
Iklan
Hal tersebut ia sampaikan dalam kegiatan edukasi kesehatan mental pada acara buka bersama dan pembagian takjil gratis yang digelar di halaman rektorat Unesa.
Menurut Diana, melalui ibadah puasa seseorang belajar menunda berbagai dorongan, mengelola impuls, serta mengarahkan perilaku sesuai dengan nilai dan tujuan yang diyakini.
“Melalui ibadah ini, seseorang belajar secara sadar untuk menunda dorongan, mengelola impuls, serta mengarahkan perilaku sesuai dengan nilai dan tujuan luhur yang diyakini,” ujarnya, dikutip dari rilis Unesa (6/3).
Ia menambahkan, dalam kajian psikologi kemampuan menahan lapar sekaligus mengendalikan emosi berkaitan dengan fungsi eksekutif otak. Proses ini melatih “otot” kontrol diri sehingga menjadi lebih kuat dan stabil.
Kematangan kontrol diri tersebut juga berkaitan dengan emotional regulation, yakni kemampuan seseorang mengelola emosi agar tetap adaptif meskipun berada dalam situasi yang menekan.
Selain itu, puasa juga menjadi sarana melatih distress tolerance, yaitu kemampuan individu bertahan dalam kondisi tidak nyaman tanpa bereaksi secara berlebihan.
Di tengah rutinitas harian yang sering dipenuhi distraksi, Ramadan juga mendorong munculnya mindfulness atau kesadaran penuh. Kondisi ini memungkinkan seseorang merespons stres secara lebih proporsional melalui proses refleksi diri.
Secara lebih luas, aktivitas sosial yang meningkat selama Ramadan, seperti berbagi dan beribadah bersama, turut memperkuat kesejahteraan psikologis atau psychological well-being. Interaksi tersebut menumbuhkan sense of belonging atau rasa keterhubungan sosial yang dalam teori psikologi berperan penting dalam menekan tingkat stres.
Dari sisi ilmu saraf, manfaat puasa juga didukung oleh temuan neuroscience. Fakultas Psikologi Unesa aktif mengedukasi masyarakat mengenai bagaimana puasa dapat memicu neuroplastisitas, yakni kemampuan otak membentuk koneksi baru, serta neurogenesis.
Proses tersebut memperkuat sinapsis atau hubungan antarsel saraf yang berdampak pada peningkatan konsentrasi dan ketahanan otak dalam menghadapi tekanan. Mekanisme ini dikenal dengan istilah neurokompensasi.
Selain memberikan edukasi kesehatan mental, Fakultas Psikologi Unesa juga memperkenalkan layanan Day Care yang dirancang berdasarkan pendekatan psikologi perkembangan. Layanan ini ditujukan untuk mendukung tumbuh kembang anak secara profesional dan terarah.
(naf/kho)



