CILACAP, ifakta.co – Lima mahasiswa Program Studi Sejarah Peradaban Islam (SPI) menjalani PPL di Rumah Batik Rajasa Mas, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, dengan terlibat langsung dalam proses produksi batik tulis tradisional selama 38 hari, sejak 8 Januari hingga 12 Februari 2026.
Dalam pelaksanaan PPL tersebut, mahasiswa tidak hanya melakukan observasi, tetapi ikut serta dalam seluruh tahapan produksi batik.
Mereka mempelajari proses perancangan motif, teknik nyanting menggunakan malam, hingga pewarnaan kain dengan metode batik tulis yang menjadi ciri khas rumah produksi tersebut.
Rumah Batik Rajasa Mas dipilih sebagai lokasi PPL karena mengusung pendekatan berbasis nilai sejarah dan filosofi budaya dalam setiap karya.
Iklan
Dilansir dari rilis UIN Saizu, Pemilik rumah batik, Tonik, menyampaikan bahwa setiap motif dan warna memiliki makna simbolik yang berkaitan dengan sejarah, budaya, dan asal-usul tertentu.
“Karena itu, pemilihan desain tidak dilakukan secara sembarangan, melainkan melalui pertimbangan filosofis,” ujar Tonik, Rabu (4/3).
Mahasiswa didorong untuk menelusuri latar belakang historis dan makna simbolik sebelum merancang motif.
Pendekatan tersebut dinilai selaras dengan kompetensi mahasiswa SPI yang mempelajari sejarah dan kebudayaan Islam, sehingga teori yang diperoleh di bangku kuliah dapat diterapkan secara kontekstual.
“Salah satu motif yang dihasilkan adalah Peksi Wijayakusuma, yang memadukan unsur burung dan bunga dengan dominasi warna hitam dan emas serta sentuhan hijau,” ujarnya.
Selain itu kata dia, mahasiswa juga merancang motif orisinal melalui pendampingan langsung para pengrajin setempat.
Selama program berlangsung, mahasiswa berhasil menghasilkan dua kain batik tulis berukuran besar yang dinilai layak jual. Masing-masing peserta juga menghasilkan satu karya batik berukuran kecil sebagai desain personal.
Pelaksanaan PPL berbasis industri budaya tersebut memberikan pengalaman praktik sekaligus penguatan kompetensi teknis dan kultural bagi mahasiswa.
“Selain memahami aspek historis dan filosofis batik, mahasiswa juga memperoleh keterampilan produksi dan wawasan kewirausahaan yang relevan dengan pengembangan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal,” pungkasnya.
(naf/kho)



