MUARA ENIM, Ifakta.co – Lebih kurang seribu warga Desa Gunung Megang Dalam, Kecamatan Gunung Megang, Kabupaten Muara Enim, telah dengan penuh kehormatan menyampaikan aspirasi melalui aksi damai di depan kantor Bupati pada Kamis (22/01) siang pukul 13.00 WIB.
Namun, hingga saat ini pihak pemerintah baik dari tingkat camat maupun kabupaten tetap memilih diam dan belum memberikan tindak lanjut apapun, apalagi kejelasan terkait permasalahan yang telah diajukan secara resmi.
Warga datang dengan langkah tegas namun tetap menjaga kesopanan tidak ada teriakan yang mengganggu, tidak ada kerusuhan yang dibuat. Suara mereka hanya terdengar dalam bentuk panggilan keadilan yang tulus dan paduan pembacaan Doa Yasin yang khusyuk.
Iklan
Bahkan setelah menyampaikan aspirasi, seluruh peserta aksi secara sukarela membersihkan setiap sudut area hingga bersih dari sampah sebelum membubarkan diri membuktikan bahwa mereka adalah masyarakat yang bertanggung jawab dan menghargai kesempatan yang diberikan untuk bersuara.
Sayangnya, sikap terhormat dari warga tidak dibalas dengan tanggapan yang sama dari pemerintah.
Aksi ini bukanlah pilihan pertama, melainkan terakhir setelah upaya damai melalui saluran resmi terus-menerus diabaikan. Sebelumnya, seluruh elemen masyarakat mulai dari BPD, tokoh agama, adat, Karang Taruna, hingga warga biasa telah melakukan musyawarah larut malam dan mengirim surat pemberitahuan nomor 140/VII/2003/2026 tanggal 19 Januari ke berbagai instansi terkait.
Namun, surat tersebut seolah hilang dalam lubuk birokrasi tanpa satu pun tanggapan resmi.
“Kita akan berjuang dengan cara yang benar untuk hak bersama yang telah direnggut tanpa dasar yang jelas. Kita sudah mengikuti semua aturan, tapi pemerintah seolah tidak melihat dan tidak mendengar keluhan kita,” tegas salah satu perwakilan warga dengan nada penuh kekecewaan.
Kepala Desa Gunung Megang Dalam, Apriadi, yang menjadi utusan suara ribuan warga, menjelaskan bahwa Pasar Kalangan bukan sekadar tempat berdagang semata.
“Ini hasil jerih payah leluhur kita yang telah ada bertahun-tahun, sumber nafkah bagi ratusan keluarga, dan bukti konkrit bahwa kita mampu membangun sesuatu yang bermanfaat untuk bersama-sama,” katanya saat menyampaikan aspirasi dari atas mobil komando.
Ia menegaskan bahwa masyarakat tidak menginginkan sesuatu yang berlebihan hanya menginginkan pasar tersebut diakui sebagai pasar bersama, dengan pengelolaan sesuai kesepakatan lama yang telah dibuat bersama Desa Gunung Megang Luar.
“Kita telah mengikuti semua prosedur dengan teliti, mengurus segala kelengkapan administrasi, tapi tak ada satu pun keputusan resmi tentang status pasar yang kita anggap sebagai aset desa bersama.
Pemerintah hanya memberikan janji kosong tanpa tindakan nyata,” jelas Apriadi dengan nada tegas.
Setelah dialog berlangsung, pihak pemerintah yang diwakili Asisten I mengundang 10 orang perwakilan masyarakat untuk melakukan mediasi tertutup.
Pada kesempatan itu, pemerintah dengan tegas berjanji akan membentuk tim khusus untuk menyelidiki permasalahan secara mendalam, dengan alasan bahwa Bupati H. Edison, S.H., M.Hum. sedang menjalankan ibadah umrah di Mekah.
Namun, janji yang dijanjikan akan diselesaikan dalam waktu seminggu kini hanya tinggal omongan kosong tidak ada perkembangan apapun, tidak ada laporan penyelidikan, bahkan tidak ada satu pun komunikasi yang menjelaskan kondisi proses yang sedang berjalan.
Saat ini momentum Lebaran 2026 semakin dekat momen yang seharusnya menjadi waktu berkumpul dan meriah bagi seluruh keluarga. Namun, ketidakjelasan dari pemerintah membuat masa depan sumber nafkah ratusan keluarga menjadi gelap dan tidak pasti.
“Janji kemarin hanya seminggu, sekarang sudah menjelang Lebaran 2026. Kita terus menunggu, tapi pemerintah tetap diam seperti tidak tahu ada masalah yang harus diselesaikan,” pungkas Apriadi dengan nada penuh kekesalan.
Ia juga menyampaikan bahwa kesabaran masyarakat tidak akan bertahan selamanya.
Jika hingga saat ini pemerintah masih tidak memberikan kejelasan dan tindakan konkrit, masyarakat siap kembali menyampaikan aspirasi hingga tingkat provinsi dengan cara yang tetap teratur dan bertanggung jawab, namun dengan tekad yang lebih kuat.
Selain itu, ia menghimbau seluruh masyarakat untuk tetap menjaga persatuan antar desa dan tidak terpengaruh oleh pihak yang tidak bertanggung jawab yang mungkin ingin memanfaatkan ketidakjelasan ini untuk merusak keharmonisan.



