SEMARANG, ifakta.co – Puisi “Jembatan” karya Sutardji Calzoum Bachri lahir dari relevansi kegelisahan dan ketimpangan sosial. “Jembatan” bukan sekadar permainan kata khas Sutardji, tetapi jeritan batin rakyat melihat jurang yang menganga di tengah bangsa yang katanya satu.
Puisi ini berbicara tentang air mata yang tak tertampung oleh sajak, tentang wajah-wajah rakyat kecil, dan tentang ironi pembangunan yang giat membangun penghubung fisik, namun gagal menyambungkan rasa kemanusiaan.
Sejak awal, Sutardji seperti meragukan kemampuan puisi itu sendiri:
Iklan
Sedalam-dalam sajak takkan mampu menampung airmata bangsa.
Baris ini berisi pengakuan pahit, tentang penderitaan sosial yang terlalu luas untuk dirangkum oleh kata-kata, bahkan dalam puisi ini sendiri. Bahasa telah lama terjebak dalam basa-basi, formalitas, dan retorika.
Ini sindiran pada wacana publik yang sering indah di permukaan, tapi kosong makna. Banyak pidato tentang kesejahteraan, persatuan, dan keadilan, tetapi realitas di lapangan menunjukkan jurang yang tetap lebar.
Sutardji lalu mengalihkan pandangan ke realitas konkret ke wajah-wajah manusia:
Wajah orangjalanan… wajah orang tergusur… wajah para pemulung yang memungut remah-remah pembangunan.
Di sini, “wajah” menjadi simbol kemanusiaan. Bukan angka statistik, bukan grafik kemiskinan, tapi manusia yang hidup dengan cerita dan luka. “Remah-remah pembangunan” adalah kritik tajam, tentang pembangunan sering dinikmati segelintir orang, sementara yang lain hanya mendapat sisanya. Mal, plaza, dan etalase menjadi lambang kemewahan yang hanya bisa ditonton, bukan dimiliki.
Ironinya, mereka tetap mengucap:
tanah air kita satu, bangsa kita satu, bahasa kita satu, bendera kita satu.
Semboyan persatuan terdengar lantang, tapi di baliknya ada jerit yang dipendam. Ini menunjukkan paradoks nasionalisme, secara simbolik bersatu, secara sosial terpisah.
Klimaks puisi ini terasa saat Sutardji mempertanyakan makna “jembatan” itu sendiri:
Jalan-jalan mekar di mana-mana… jembatan-jembatan tumbuh kokoh… tapi siapakah yang akan mampu menjembatani jurang di antara kita?
Inilah inti kritiknya. Negara bisa membangun tol, bandara, pelabuhan, dan jembatan raksasa. Infrastruktur fisik berkembang pesat. Tapi apakah itu otomatis menghubungkan manusia? Apakah kemajuan material berarti kedekatan sosial?
Sutardji seolah berkata: jurang terbesar bukan di sungai atau lembah, tapi di antara manusia dan manusia, antara kaya dan miskin, pusat dan pinggiran, didengar dan diabaikan.
Puisi ini terasa makin relevan di Indonesia hari ini. Kita hidup di era pembangunan masif. Jalan tol membentang, kota-kota terhubung cepat. Namun berita tentang penggusuran, ketimpangan ekonomi, dan sulitnya akses kebutuhan dasar masih sering terdengar. Banyak orang menikmati kemajuan, tapi tak sedikit yang tertinggal di pinggir.
Bagian akhir puisi menghadirkan gambaran yang lebih sunyi namun menyayat:
mereka pancangkan koyak-moyak bendera hati dipijak ketidakpedulian…
“Bendera hati” adalah simbol perasaan, martabat, dan harapan rakyat. Ketika itu koyak dan terinjak, yang terjadi adalah hilangnya empati sosial. Orang sibuk dengan urusannya sendiri. Kepedulian menjadi barang mahal.
Puisi “Jembatan” pada akhirnya bukan sekadar kritik, tapi juga peringatan. Ia mengingatkan bahwa bangsa tidak hanya dibangun oleh beton dan aspal, tapi oleh rasa saling memiliki. Jembatan paling penting adalah empati, kemampuan melihat penderitaan orang lain sebagai bagian dari diri kita.
Tanpa itu, seberapa pun megah jembatan dibangun, kita tetap berdiri di pulau masing-masing.
Dan mungkin, itulah pertanyaan Sutardji yang masih menggema sampai sekarang. Kita sudah terhubung secara fisik tapi apakah kita benar-benar terhubung sebagai sesama manusia?
(naf/kho)



