JAKARTA, ifakta.co – Ia berangkat sebagai seorang pemuda kecil dari Jatibarang, dengan tubuh kurus dan masa depan yang belum sempat diberi nama. Katjoeng namanya, dia bukan tokoh besar dalam buku sejarah, bukan pula pemimpin perlawanan. Ia hanya satu dari sekian banyak anak Jawa yang digiring keadaan, menyeberangi dua benua tanpa pernah benar-benar tahu ke mana takdir akan membawanya.
Pada masa kolonialisme, manusia dipindahkan seperti barang. Katjoeng menjadi bagian dari arus itu. Dari tanah yang akrab dengan bau lumpur sawah dan doa-doa sederhana, ia dibawa jauh melintasi samudra.
Laut kala itu bukan sekadar bentang alam, melainkan garis pemisah antara hidup yang pernah ia kenal dan masa depan yang sepenuhnya asing.
Iklan
Kapal yang mengangkut Katjoeng bukan hanya membawa tubuh-tubuh muda, tetapi juga kenangan, bahasa ibu, dan ketakutan yang tak terucap. Di geladak, waktu berjalan lambat. Hari-hari dilewati dengan pertanyaan yang tak pernah menemukan jawaban. “Apakah perjalanan ini akan berakhir pada kehidupan yang lebih layak, atau justru pada keterasingan yang panjang?
Ketika akhirnya menjejakkan kaki di Paramaribo, Katjoeng tak disambut sebagai manusia seutuhnya. Ia datang sebagai angka dalam catatan kerja. Namun justru di kota inilah darah Jatibarang diuji daya tahannya.
Di ladang-ladang dan sudut-sudut pemukiman, Katjoeng belajar bertahan hidup. Menganyam rindu dengan kerja keras, menyimpan ingatan kampung halaman dalam bahasa yang perlahan bercampur logat asing.
Suriname bukan Jawa. Langitnya berbeda, tanahnya asing, dan namanya sulit diucapkan lidah kampung. Tetapi Katjoeng, seperti banyak orang Jawa lain, menemukan cara untuk tetap menjadi dirinya.
Tradisi dirawat dalam senyap, doa dibaca dalam bahasa yang sama, dan kisah asal-usul diturunkan dari mulut ke mulut, seolah takut hilang ditelan zaman.
Hari ini, jejak Katjoeng mungkin tak tercatat di arsip resmi. Namun ia hidup dalam denyut komunitas Jawa di Suriname, dalam nama keluarga, dalam ritual, dalam kenangan kolektif yang menolak punah. Darah Jatibarang mengalir jauh dari sumbernya, tetapi tak pernah benar-benar terputus.
Kolom ini mencatat Katjoeng bukan sebagai legenda, melainkan sebagai pengingat. Bahwa sejarah kerap dibangun oleh orang-orang kecil yang tak pernah memilih pergi, namun dipaksa melangkah jauh.
Dari Jatibarang ke Paramaribo, dari sawah ke seberang samudra, Katjoeng adalah jejak sunyi tentang manusia, harapan, dan takdir yang berjalan tanpa peta.(Jo)
