JAKARTA, ifakta.co – Dua struktur sumur kuno berbentuk jobong ditemukan di Desa Trayang, Kecamatan Ngronggot, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Temuan di sekitar Sungai Brantas tersebut diduga berkaitan dengan peninggalan era Majapahit.
Kedua struktur kuno itu ditemukan sekitar 15 meter dari bibir Sungai Brantas. Lokasinya berada di sisi timur tanggul dan tidak jauh dari Balai Desa Trayang.
Wilayah tersebut memang dikenal sebagai kawasan yang memiliki sejumlah temuan benda dan struktur purbakala dari masa klasik di Jawa Timur. Karena itu, temuan dua jobong tersebut langsung mendapat perhatian dari pemerintah daerah.
Iklan
Pegawai Dinas Kepemudaan, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata (Disporabudpar) Kabupaten Nganjuk, Aries Trio Effendi, mengatakan bentuk dan kondisi temuan menjadi salah satu dasar dugaan bahwa jobong tersebut berasal dari era Majapahit.
“Dari letak, kondisi, maupun kelihatannya, memperkuat bahwa itu sumur jobong buatan dari tanah liat (era Majapahitan),” ujar Aries kepada Kompas.com, Rabu (30/9/2026).
Jobong merupakan struktur berbentuk silinder yang dibuat dari terakota atau tanah liat bakar. Pada masa lalu, susunan tersebut digunakan sebagai bagian dinding sumur.
Dua jobong di Desa Trayang ditemukan warga pada Selasa (29/9/2026). Setelah menerima informasi tersebut, Disporabudpar Kabupaten Nganjuk langsung mendatangi lokasi pada hari yang sama untuk menindaklanjuti temuan.
Di sekitar lokasi, petugas juga menemukan sejumlah benda lain yang diduga berkaitan dengan jejak aktivitas masa lampau. Temuan tersebut berupa pecahan bata kuno dan gerabah.
“Yang lain kita temukan batu bata kuno yang sudah pecah-pecah. Juga kita temukan gerabah-gerabah yang sudah pecah-pecah. Dari sekitar situ ada, juga ada yang dari dalam sumur,” ungkap Aries.
Temuan dua jobong tersebut juga bukan menjadi penemuan pertama di kawasan itu. Sekitar tujuh tahun lalu, warga pernah menemukan dua sumur jobong lain di lokasi yang berjarak sekitar 100 meter ke arah selatan.
Dua sumur jobong yang ditemukan sebelumnya kini disimpan di Museum Anjuk Ladang.
Dugaan keterkaitan dengan era Majapahit sementara ini didasarkan pada karakter material dan bentuk struktur yang ditemukan. Aries menyebut karakter terakota serta bata kuno di sekitar lokasi menjadi salah satu indikator dalam identifikasi awal.
Dimensi bata yang ditemukan juga dinilai memiliki karakter yang khas dengan material dari masa Majapahit. Selain itu, konteks arkeologis di kawasan Trayang dan sekitarnya turut memperkuat dugaan tersebut.
Meski demikian, langkah awal yang dilakukan pemerintah daerah saat ini berfokus pada penyelamatan temuan. Upaya tersebut diperlukan untuk menjaga struktur kuno agar tidak rusak atau diambil oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
“Sementara tujuannya itu untuk penyelamatan sementara dulu. Penting itu, penyelamatan dulu untuk menjaga keselamatan benda biar enggak diambil orang atau rusak, seperti itu,” ujarnya.
Dari hasil pengamatan sementara, masing-masing jobong yang ditemukan memiliki diameter sekitar 55 sentimeter. Ketebalan struktur jobong mencapai sekitar 3 sentimeter.
“Ketinggiannya (masing-masing bagian jobong) itu 32 sampai 35 (sentimeter),” pungkasnya.
(may/may)

