JAKARTA, ifakta.co – Let’s All Eat Right Day diperingati setiap 25 Februari, bertepatan dengan hari lahir Adelle Davis, ahli gizi dan penulis yang berpengaruh pada gerakan nutrisi abad ke-20.
Salah satu kutipannya yang kerap diingat berbunyi, “Sarapanlah seperti raja, makan siang seperti pangeran, dan makan malam seperti orang miskin.”
Gagasan tersebt memberi perhatian lebih pada apa yang dikonsumsi sehari-hari. Bukan soal diet ketat, melainkan membangun kebiasaan makan yang lebih sehat.
Iklan
Bukan Sekadar Sehari
Let’s All Eat Right Day tidak dimaksudkan sebagai ajakan makan sehat selama 24 jam saja. Semangatnya adalah komitmen jangka panjang: memperbanyak konsumsi buah, sayur, biji-bijian utuh, serta sumber protein yang berkualitas, sekaligus lebih bijak terhadap gula tambahan dan makanan ultra-proses.
Di tengah ritme hidup yang serba cepat, pilihan makanan sering ditentukan oleh kepraktisan. Yang penting kenyang, yang penting cepat. Padahal, makanan bukan sekadar pengisi perut.
Ia menentukan energi, fokus, bahkan suasana hati. Kebiasaan kecil yang diulang setiap hari pelan-pelan membentuk kondisi tubuh dalam jangka panjang.
Let’s All Eat Right Day hadir sebagai pengingat hal yang sebenarnya sudah kita tahu, tetapi sering diabaikan. Bahwa pola makan bukan urusan satu hari.
Ia terbentuk dari keputusan-keputusan kecil: memilih air putih alih-alih minuman manis, menambah porsi sayur, atau tidak selalu bergantung pada makanan olahan.
Momentum ini juga bisa menjadi waktu untuk mengevaluasi pola makan. Apakah menu harian sudah seimbang? Apakah camilan memberi nilai gizi atau sekadar mengisi waktu? Apakah sudah cukup minum air putih?
Cara Merayakan Let’s All Eat Right Day
Perayaan Let’s All Eat Right Day bisa dilakukan dengan beberapa cara berikut.
Eat the Rainbow
Konsep eat the rainbow mendorong variasi alami dalam pola makan. Hal ini dapat dilakukan dengan cara menyajikan lebih banyak warna di piring. Dalam satu kali makan, upayakan ada kombinasi sayur dan buah dengan warna berbeda.
Warna pada bahan pangan sering kali mencerminkan kandungan gizinya. Sayuran hijau gelap umumnya kaya folat dan vitamin K. Bahan berwarna oranye seperti wortel atau labu mengandung karotenoid.
Buah beri dengan warna merah keunguan dikenal memiliki senyawa antioksidan. Semakin beragam warnanya, semakin besar peluang tubuh mendapat spektrum nutrisi yang lebih lengkap.
Dengan cara ini, keseimbangan bisa dibangun tanpa perlu terpaku pada hitungan kalori atau aturan makan yang rumit. Cukup mulai dari satu prinsip “jangan biarkan piring terlihat pucat.”
Belajar membaca label pangan.
Memahami kandungan gula tambahan, natrium, serta ukuran porsi membantu mengambil keputusan yang lebih rasional saat berbelanja.
Langkah pertama, perhatikan ukuran saji. Banyak produk terlihat “rendah kalori”, tetapi angka tersebut dihitung untuk satu porsi kecil, sementara dalam satu kemasan bisa terdapat dua hingga tiga porsi. Jika seluruh kemasan dikonsumsi, otomatis jumlah gula, garam, dan kalorinya ikut berlipat.
Berikutnya, cermati daftar komposisi. Bahan yang tercantum di urutan awal berarti jumlahnya paling banyak. Jika gula—dengan berbagai nama seperti sirup jagung, sukrosa, fruktosa, atau maltosa—muncul di barisan atas, artinya produk tersebut tinggi gula tambahan. Hal serupa berlaku untuk garam atau natrium pada makanan olahan.
Perhatikan pula kandungan natrium. Banyak orang tidak sadar bahwa asupan garam berlebih sering berasal dari makanan kemasan, saus, dan camilan gurih. Jika dalam satu porsi sudah menyumbang sebagian besar kebutuhan harian, konsumsinya perlu dibatasi.
Selain itu, bandingkan produk sejenis. Dua merek biskuit atau sereal bisa memiliki selisih gula dan serat yang cukup jauh. Meluangkan waktu beberapa menit untuk membaca label sering kali menghasilkan pilihan yang lebih baik tanpa harus mengubah pola makan secara drastis.
Kebiasaan sederhana ini membuat proses belanja lebih sadar dan terkontrol. Bukan untuk menjadi kaku terhadap makanan, melainkan agar keputusan yang diambil benar-benar sesuai dengan kebutuhan tubuh, bukan sekadar tergoda klaim di kemasan depan.
Membangun Pola, Bukan Tren
Pesan utama dari Let’s All Eat Right Day adalah konsistensi. Ketika makanan bergizi menjadi bagian dari rutinitas, pola makan sehat tidak lagi terasa sebagai target jangka pendek, melainkan bagian dari gaya hidup sehari-hari.
Pada akhirnya, peringatan ini mengajak untuk kembali pada prinsip ‘memilih makanan yang membantu tubuh bekerja dengan optimal’ dengan langkah yang konsisten dan berkelanjutan.
(naf/kho)


