JAKARTA, ifakta.co – Film Primate hadir sebagai horor bertema survival. Disutradarai oleh Johannes Roberts, film ini mengambil latar pulau terpencil di Hawaii dan memusatkan cerita pada satu situasi ekstrem: bagaimana sebuah keluarga menghadapi perubahan drastis pada hewan peliharaan yang selama ini mereka anggap bagian dari rumah.
Film ini rilis di Amerika Serikat pada 9 Januari 2026 dan masuk di Indonesia pada 23 Januari 2026, Primate mencoba menawarkan ketegangan yang dibangun lewat situasi terisolasi dan relasi antarkarakter, bukan sekadar adegan kekerasan.
Bukan Hanya Tentang Serangan Hewan
Iklan
Kisahnya berawal dari Lucy yang kembali ke rumah keluarganya untuk liburan musim panas. Ia bertemu kembali dengan ayahnya, Adam, adiknya Erin, serta Ben, simpanse yang sudah lama dirawat keluarga mereka.
Ben digambarkan sebagai hewan cerdas yang mampu berinteraksi menggunakan papan simbol. Kedekatannya dengan Lucy menjadi salah satu fondasi emosional cerita. Perubahan terjadi setelah Ben digigit hewan liar yang terinfeksi rabies. Infeksi tersebut memengaruhi perilakunya secara drastis dan menciptakan ancaman serius bagi siapa pun di sekitarnya.
Film ini tidak hanya menampilkan situasi bertahan hidup, tetapi juga memperlihatkan bagaimana ikatan emosional bisa berubah menjadi dilema yang sulit. Lucy tidak hanya menghadapi ancaman fisik, melainkan juga konflik batin ketika harus menerima bahwa Ben tidak lagi seperti yang ia kenal.
Gaya Penyutradaraan yang Terkontrol
Johannes Roberts sebelumnya dikenal lewat 47 Meters Down dan 47 Meters Down: Uncaged, yang sama-sama mengandalkan ruang terbatas dan rasa terjebak sebagai sumber ketegangan. Pendekatan serupa terlihat di Primate.
Rumah keluarga di pulau terpencil menjadi ruang utama cerita. Lokasi yang indah justru menambah kontras ketika situasi berubah. Ketegangan dibangun secara bertahap melalui perubahan perilaku Ben dan meningkatnya rasa tidak aman di antara para karakter.
Para Pemeran dan Karakter
Film ini dibintangi oleh Johnny Sequoyah sebagai Lucy dan Troy Kotsur sebagai Adam. Interaksi antara keduanya menjadi inti emosional cerita. Karakter-karakter pendukung seperti Kate, Hannah, Nick, dan Erin turut memperluas dinamika kelompok ketika situasi berubah menjadi krisis.
Kehadiran para pemeran muda memberi energi pada paruh awal film, sementara konflik keluarga menjadi penguat saat cerita memasuki fase yang lebih tegang.
(naf/kho)



