JAKARTA, ifakta.co – Bubur sumsum adalah sajian tradisional khas Indonesia yang digemari semua kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang tua.

Teksturnya lembut, berwarna putih bersih, dan disajikan dengan siraman gula merah cair yang manis serta gurihnya santan. Perpaduan rasa tersebut menjadikan bubur sumsum tak hanya nikmat, tetapi juga sarat makna dan sejarah panjang dalam budaya Nusantara.

Sejarah Bubur Sumsum

Iklan

Lahir dari Masa Sulit Pangan

Konon, bubur sumsum tercipta sebagai strategi masyarakat dalam menghadapi masa sulit, terutama pada zaman penjajahan. Saat itu, bahan pangan seperti beras sangat terbatas karena lahan pertanian banyak dikuasai penjajah.

Untuk menyiasati kekurangan tersebut, masyarakat menambahkan lebih banyak air dan santan agar beras atau tepung beras dapat menghasilkan porsi yang lebih banyak. Dari kreativitas itulah lahir berbagai jenis bubur, termasuk bubur sumsum yang berbahan dasar tepung beras atau beras ketan yang dihaluskan.

Hidangan ini menjadi simbol ketahanan dan kecerdikan masyarakat dalam bertahan hidup di tengah keterbatasan.

Asal Usul Nama “Sumsum”

Meski namanya “sumsum”, bubur ini tidak terbuat dari sumsum tulang. Penamaan tersebut merujuk pada warna dan teksturnya yang putih lembut menyerupai sumsum tulang.

Dalam bahasa Jawa, “sumsum” juga bisa dimaknai sebagai inti atau pusat. Artinya, bubur sumsum bukan sekadar makanan, melainkan inti dari tradisi dan kebersamaan masyarakat.

Daerah Asal

Bubur sumsum dipercaya berasal dari wilayah Jawa, khususnya Jawa Tengah dan Jawa Timur. Di daerah Magelang dan sekitarnya, bubur sumsum dikenal dengan sebutan jenang baning. Kata “baning” berasal dari “bening” yang melambangkan kejernihan pikiran dan ketenangan hati.

Fakta Menarik Bubur Sumsum

1. Simbol Kesederhanaan dan Rasa Syukur

Bubur sumsum lahir dari keterbatasan. Karena itu, hidangan ini dimaknai sebagai simbol kesederhanaan dan rasa syukur atas rezeki yang ada.

2. Sering Hadir dalam Ritual Adat

Dalam tradisi Jawa, bubur sumsum kerap disajikan dalam acara selamatan, mitoni (tujuh bulanan kehamilan), hingga pernikahan. Warna putihnya melambangkan kesucian dan harapan baik.

3. Identik dengan Bulan Ramadan

Saat Ramadan, bubur sumsum sering menjadi menu takjil favorit. Biasanya disajikan bersama biji salak—bola-bola kecil dari umbi-umbian berwarna cokelat keemasan yang menambah cita rasa dan tekstur.

4. Dipengaruhi Budaya Luar

Beberapa ahli menyebut kemungkinan adanya pengaruh budaya Tiongkok dalam tradisi memasak bubur. Namun penggunaan santan dan gula merah menjadikan bubur sumsum memiliki ciri khas Indonesia yang kuat.

Filosofi Bubur Sumsum

Warna putih bubur sumsum melambangkan kesucian, kebersihan hati, dan kejernihan pikiran. Dalam budaya Jawa, makanan bukan hanya pengisi perut, tetapi juga sarat makna spiritual.

Bubur sumsum mengajarkan bahwa dari sesuatu yang sederhana, bisa lahir makna mendalam. Ia menjadi pengingat bahwa dalam keterbatasan, manusia tetap bisa menciptakan sesuatu yang bernilai.

Resep dan Cara Membuat Bubur Sumsum

Kalau kamu ingin menikmati bubur sumsum tanpa harus membelinya, kamu bisa membuatnya sendiri di rumah. Berikut resep lengkapnya:

Bahan-Bahan

Bahan Bubur:

  • 200 gram tepung beras
  • ½ sendok teh garam
  • 400 ml santan kental
  • 1,5 liter air
  • 3 lembar daun pandan, simpulkan

Bahan Saus Gula Merah:

  • 500 gram gula merah/gula jawa, sisir halus
  • 3 sendok makan gula pasir
  • 2 lembar daun pandan
  • 500 ml air
  • (Rebus semua bahan saus hingga sedikit mengental, lalu sisihkan.)

Cara Membuat

  1. Campurkan tepung beras, santan, air, dan garam dalam panci. Aduk hingga rata dan tidak menggumpal.
  2. Masukkan daun pandan.
  3. Masak dengan api kecil sambil terus diaduk agar tidak gosong dan tidak bergerindil.
  4. Aduk hingga adonan mengental dan meletup-letup.
  5. Angkat dan diamkan hingga sedikit mengeras.
  6. Sajikan bubur dalam mangkuk, lalu siram dengan saus gula merah sesuai selera.

Bubur sumsum siap dinikmati hangat maupun dingin.

(naf/kho)