BANYUMAS, ifakta.co – Prestasi membanggakan diraih Sanggar Jagabaya Nuswantara setelah dinobatkan sebagai Pemrakarsa Seni Pertunjukan Sendratari Inovatif Terpopuler dalam ajang Banyumas Gatra Budaya 2026.

Penghargaan ini menjadi bukti konsistensi sanggar dalam menghidupkan kembali seni pertunjukan tradisi di tengah arus modernisasi.

Berawal dari Warisan Perjuangan Budayawan

Iklan

Ketua sanggar, Virna, menuturkan bahwa Jagabaya Nuswantara berdiri pada 2018. Awalnya berbentuk perkumpulan yang diinisiasi oleh putra-putra almarhum budayawan Banyumas, Bambang Umoyo. Mereka ingin melanjutkan perjuangan sang ayah dalam nguri-uri budaya Banyumas.

“Sanggar ini dibentuk untuk melanjutkan perjuangan almarhum Bapak Bambang Umoyo dalam menjaga budaya Banyumas,” ujar Virna kepada ifakta (18/2).

Seiring waktu, cakupan garapan seni tidak hanya terbatas pada budaya Banyumas, tetapi juga merambah budaya Nusantara. Meski demikian, identitas lokal tetap menjadi pijakan utama.

“Kami melihat kebudayaan terus berkembang. Jadi tidak hanya berpaku pada budaya Banyumas, tapi juga Nusantara, tanpa melupakan akar kami,” tambahnya.

Kekhawatiran Mengantar Gerakan Generasi Muda

Latar belakang berdirinya sanggar ini berangkat dari kekhawatiran akan menipisnya minat generasi muda terhadap seni tradisi. Untuk menjawab kegelisahan itu, pada awal berdiri mereka memberikan pelatihan gratis bagi anak-anak SD dengan mendatangi langsung lokasi belajar.

“Kami mendatangkan guru dan mengajak anak-anak belajar bersama. Semua gratis,” kata Virna.

Kini sanggar telah memiliki tempat latihan tetap. Siapa pun yang ingin belajar tetap tidak dipungut biaya. Namun, dalam dua tahun terakhir, tingginya minat membuat sistem penerimaan harus dibatasi.

“Karena peminatnya membludak, sekarang kami mengadakan perekrutan atau seleksi dalam periode tertentu. Tidak bisa masuk sewaktu-waktu seperti dulu,” jelasnya.

Saat ini tercatat 220 anggota terdaftar, dengan sekitar 80 anggota aktif berlatih secara rutin.

Anak Muda Kekuatan Utama

Dominasi generasi muda menjadi kekuatan utama Jagabaya Nuswantara. Hal ini ditegaskan Kepala Pusat Pelatihan, Muhammad Ridwan Bungsu, yang setiap hari mendampingi proses latihan.

Menurutnya, seluruh anggota sanggar berasal dari kalangan anak muda, mulai dari siswa SD hingga mahasiswa.

“Jagabaya Nuswantara ini semua anggotanya anak muda. Mulai dari anak SD sampai mahasiswa. Dan potensi kesenian mereka sangat kuat,” ujarnya saat ditemui (17/2).

Ridwan bahkan menyangkal anggapan bahwa generasi muda mulai melupakan tradisi.

“Kalau hari ini ada yang khawatir anak muda melupakan jati diri tradisi, saya sangat menyangkal. Karena hampir setiap hari saya menyaksikan langsung antusiasme mereka yang begitu luar biasa,” tegasnya.

Ia menilai anak muda saat ini justru menunjukkan keseriusan dalam berkesenian. Mereka datang latihan atas kemauan sendiri, disiplin, dan berani bereksplorasi tanpa meninggalkan nilai tradisi.

“Anak-anak muda sekarang malah sangat serius dalam berkesenian. Antusiasnya besar sekali, dan itu yang membuat kami optimistis,” tambah Ridwan.

Produktif di Panggung Sendratari

Sanggar ini mulai aktif mementaskan karya pada 2024. Momentum besar datang pada 2025 ketika Jagabaya memperoleh dana hibah dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Dukungan tersebut memungkinkan produksi sendratari berjalan intensif.

“Dalam 2025 kami bisa mementaskan hingga 12 kali. Hampir setiap bulan ada pertunjukan,” ungkap Virna.

Konsistensi itu yang kemudian mengantarkan Jagabaya Nuswantara meraih penghargaan dalam Banyumas Gatra Budaya 2026.

Ruang Kreasi dan Inovasi Generasi Muda

Bagi Virna, penghargaan bukan tujuan akhir. Sanggar ingin menjadi ruang terbuka bagi generasi muda untuk terus berkreasi.

“Kami ingin seluas-luasnya mewadahi generasi muda untuk berinovasi. Kalau mereka diberi ruang, mereka akan mencintai budaya itu dengan sendirinya,” katanya.

Di tengah derasnya pengaruh budaya populer, Jagabaya Nuswantara menunjukkan bahwa tradisi tidak harus kalah. Justru di tangan generasi muda, sendratari tampil lebih segar, komunikatif, dan tetap berakar pada nilai luhur budaya.

Penghargaan yang diraih pada 2026 menjadi penanda bahwa estafet pelestarian budaya Banyumas masih terus berjalan dan kali ini, digerakkan oleh anak-anak muda yang memilih untuk mencintai tradisinya sendiri.

(naf/kho)