JAKARTA, Ifakta.co – Ramadhan adalah tamu agung yang tidak datang untuk merepotkan, melainkan untuk menyembuhkan. Ia hadir sebagai jeda dari hiruk-pikuk dunia yang seringkali membuat jiwa kita kering dan lelah. Di ambang pintu bulan suci ini, saatnya kita meletakkan beban ego, membasuh debu-debu dosa dengan taubat, dan melapangkan dada dengan maaf.
Menyambut Ramadhan adalah tentang kesiapan batin. Seberapa besar ruang yang kita sediakan di hati kita untuk Tuhan, sebesar itulah keberkahan yang akan kita rasakan. Jangan biarkan bulan ini berlalu hanya sebagai ritual haus dan lapar, namun jadikan ia momentum untuk “pulang” ke pelukan ampunan-Nya.
Doa Menyambut Hilal Ramadhan
Iklan
Sesuai sunnah Rasulullah ﷺ, bacalah doa ini saat Anda melihat hilal atau ketika pemerintah telah menetapkan masuknya 1 Ramadhan:
اللَّهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِالْيُمْنِ وَالإِيمَانِ وَالسَّلامَةِ وَالإِسْلامِ رَبِّي وَرَبُّكَ اللَّهُ
Allahumma ahillahu ‘alaina bil yumni wal imani was salamati wal islami rabbi wa rabbukallahu.
Artinya:
“Ya Allah, munculkanlah hilal (bulan sabit) itu kepada kami dengan membawa keberkahan, keimanan, keselamatan, dan Islam. Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah.”
Langkah Sederhana Mengamalkannya :
>> Niat yang Tulus : Ucapkan doa ini dengan penuh harap agar Allah menjaga kesehatan dan iman kita selama sebulan penuh.
>> Saling Memaafkan :Bersihkan “wadah” pahala Anda dengan meminta maaf kepada orang tua, pasangan, dan kerabat sebelum fajar pertama Ramadhan menyapa.
>> Target Langit :Tentukan satu kebaikan kecil yang konsisten (istiqomah), misalnya satu ayat Al-Qur’an setiap setelah shalat.
Ramadhan : Tentang Menemukan Kembali Diri yang Hilang”
Di antara deru dunia yang tak pernah berhenti, kita seringkali kehilangan arah. Ramadhan hadir bukan untuk membatasi ruang gerak kita, melainkan untuk memberi kita waktu bernapas. Ia adalah kesempatan untuk berhenti sejenak, melihat ke dalam diri, dan bertanya: “Sudah sejauh mana aku berjalan menjauh dari sumber kedamaianku?”
Jangan biarkan Ramadhan tahun ini berlalu seperti tahun-tahun sebelumnya hanya sebagai pergantian rutinitas dapur dan meja makan. Jadikan setiap detiknya sebagai dialog intim antara hamba dan Pencipta.
• Saat Berbuka: Rasakan syukur atas nikmat yang sering kita anggap remeh.
• Saat Sahur: Nikmati sunyinya semesta saat doa-doa paling mudah menembus langit.
• Saat Lelah Berpuasa: Ingatlah bahwa setiap dahaga adalah penghapus dosa, dan setiap lapar adalah pengasah empati.
“Puasa adalah perisai, shalat adalah cahaya, dan sedekah adalah bukti. Namun, keikhlasan adalah nyawa dari ketiganya.”
Mari kita masuki gerbang mulia ini dengan senyuman. Bukan karena kita sudah suci, tapi karena kita yakin bahwa kasih sayang-Nya jauh lebih luas daripada lautan khilaf kita.
Selamat menjemput cahaya, selamat pulang ke pelukan ampunan-Nya. (FA)



