BANYUMAS, ifakta.co – Diskusi dan peluncuran buku “Singadipa: Singa Perang dari Bumi Banyumas” karya Aditya Hera Nurmoko dan Talita Veda Azaria digelar pada Jumat, 14 Februari 2026.

Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian Banyumas Culture Festival dalam rangka memperingati Hari Jadi Banyumas ke-455.

Acara tersebut dihadiri langsung oleh para penulis, anggota Ikatan Keluarga Eyang Singadipa, sejarawan, serta pegiat sastra dan sejarah lokal.

Iklan

Diskusi berlangsung hangat dengan membahas posisi Banyumas dalam narasi besar Perang Jawa (1825–1830) yang selama ini cenderung terpusat pada wilayah Yogyakarta dan Magelang.

Buku ini dinilai menjadi upaya penting untuk menghadirkan kembali peran tokoh-tokoh lokal yang selama ini luput dari catatan sejarah arus utama.

Penulis Aditya Hera Nurmoko menyampaikan bahwa buku ini ditulis dengan tujuan mendekatkan sejarah kepada masyarakat Banyumas, khususnya generasi muda.

“Buku ini saya tulis dalam bahasa Indonesia untuk mendongkrak minat literasi warga Banyumas, khususnya muda-mudi. Buku ini saya susun dengan merujuk pada dua versi naskah yang berbeda serta bersumber dari keterangan keturunan Eyang Singadipa,” ujar Aditya dalam diskusi.

Melalui kolaborasi lintas generasi bersama Talita Veda Azaria, buku ini tidak hanya menawarkan kajian sejarah, tetapi juga menjadi ikhtiar budaya untuk nguri-uri ingatan kolektif masyarakat Banyumas. 

Peluncuran buku ini sekaligus menegaskan bahwa sejarah lokal memiliki posisi strategis dalam memperkaya narasi sejarah nasional Indonesia.

Sinopsis Buku “Singadipa ‘Singa Perang dari Bumi Banyumas”

Buku “Singadipa: Singa Perang dari Bumi Banyumas” mengangkat kisah perjuangan di wilayah barat Perang Jawa yang selama ini kurang mendapat sorotan.

Melalui penelusuran jalur Ajibarang, Kertanegara, Roma, pegunungan Wonosobo–Ledok, hingga pesisir selatan Ayah dan Karang Bolong, buku ini menghadirkan Banyumas sebagai palagan penting perlawanan kolonial, dengan Watubelah, Kalijaran, dan Panembangan Cilongok sebagai titik akhir perjuangan dan persembunyian.

Tokoh Singadipa ditampilkan sebagai panglima perang yang menjadi pilar pertahanan Pangeran Diponegoro di sektor barat. Sosoknya selama hampir dua abad lebih hidup dalam tradisi lisan keturunannya dibandingkan dalam buku teks sejarah. 

Dengan menggabungkan dua versi naskah dan pitutur para sesepuh, buku ini berupaya menghadirkan narasi sejarah yang lebih berimbang dan berpihak pada ingatan lokal.

Lebih dari sekadar buku sejarah, karya ini merupakan ikhtiar melawan lupa dan bentuk cinta pada tanah Banyumas. Nilai-nilai egaliter, keteguhan, dan keberanian yang melekat pada sosok Singadipa menjadi pesan lintas generasi, diperkuat dengan piweling yang menegaskan etika hidup Banyumasan: sederhana, bermanfaat, dan menjauhi kesombongan dalam peran apa pun yang dijalani.

(naf/kho)