YOGYAKARTA, ifakta.co – Ancaman dan intimidasi diduga dialami seorang aktivis Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM UGM) usai melayangkan kritik keras terhadap Presiden Prabowo Subianto.
Teror tersebut diterima Tiyo, salah satu perwakilan BEM UGM, dalam bentuk pesan ancaman hingga dugaan pembuntutan oleh orang tak dikenal.
“Saya menerima pesan-pesan teror dari nomor tidak dikenal. Ada ancaman penculikan, serangan karakter secara beruntun. Bahkan saat berada di sebuah kedai, saya sempat diikuti dua orang yang memotret dari jauh. Ketika saya dekati, mereka langsung menghilang,” ujar Tiyo kepada tim ifakta.co melalui pesan langsung Instagram, Kamis (13/2).
Iklan
Tiyo menjelaskan, teror bermula empat hari setelah BEM UGM mengirimkan surat terbuka berisi kritik terhadap kebijakan pemerintah. Ia menerima pesan WhatsApp bernada ancaman dari nomor asing berkode negara Inggris. Dalam pesan tersebut, pengirim menuduh Tiyo sebagai “agen asing” yang mencari panggung politik, disertai ancaman penculikan.
Intimidasi tak berhenti di ruang digital. Sehari setelah pesan tersebut diterima, Tiyo mengaku merasa diikuti dua orang tak dikenal saat berada di sebuah kedai. Keduanya disebut sempat mengambil foto dari jarak jauh sebelum pergi tergesa-gesa ketika disadari.
Surat terbuka BEM UGM sendiri dikirimkan pada 6 Februari 2026 kepada UNICEF. Surat itu merupakan respons atas tragedi meninggalnya seorang siswa sekolah dasar di Nusa Tenggara Timur yang diduga mengakhiri hidup karena tak mampu membeli alat tulis seharga kurang dari Rp10 ribu.
Dalam surat tersebut, BEM UGM menilai tragedi itu mencerminkan kegagalan negara dalam menjamin hak dasar anak, khususnya akses terhadap pendidikan. Mereka menyoroti kesenjangan antara capaian statistik yang kerap dipaparkan pemerintah dengan realitas sosial yang dihadapi masyarakat.
Tiyo, dalam surat itu, juga menyatakan bahwa angka-angka yang disampaikan pemerintah terasa jauh dari kondisi di lapangan. Ia bahkan menyindir presiden seolah hidup dalam imajinasi sendiri. Selain itu, mahasiswa menyoroti prioritas anggaran negara yang dinilai tidak berpihak pada persoalan kemanusiaan mendesak.
BEM UGM turut menyinggung kontribusi dana Rp16,7 triliun untuk Board of Peace yang menuai kontroversi, serta membandingkannya dengan kondisi seorang anak yang tak memiliki Rp10 ribu untuk kebutuhan sekolah.
Mereka juga mengkritik alokasi anggaran pendidikan untuk program Makan Bergizi Gratis yang disebut menyedot Rp1,2 triliun per hari, namun dinilai belum menyentuh akar ketimpangan pendidikan dan kemiskinan struktural.
Di bagian akhir surat, BEM UGM secara tegas meminta UNICEF menyampaikan kritik tersebut langsung kepada Presiden Prabowo. Kalimat penutup surat itu kemudian ramai diperbincangkan di media sosial dan memicu perdebatan luas.
Teror yang dialami Tiyo bukan yang pertama. Sebelumnya, BEM UGM mengaku kerap menerima intimidasi setelah menyuarakan kritik terhadap proyek Makan Bergizi Gratis maupun revisi Undang-Undang TNI. Bahkan, Tiyo menyebut dirinya pernah menerima ancaman pembunuhan.
Rangkaian peristiwa ini kembali menyoroti isu kebebasan berekspresi serta keamanan aktivis mahasiswa dalam menyampaikan kritik di ruang publik.
(naf/kho)


