SEMARANG, ifakta.co – Retakan itu membelah dinding rumah Sri Darningsih seperti guratan luka yang tak bisa sembunyi. Dindingnya miring, sebagian jebol, lantai terangkat, dan kayu-kayu penyangga mulai terlepas. Rumah yang selama ini menjadi tempat berteduh kini tak lagi layak dihuni.

Di antara belasan rumah yang rusak, di Jalan Sekip, Kelurahan Jangli, Kecamatan Tembalang, rumah Sri memang masih berdiri, namun kondisinya nyaris runtuh.

Perempuan berusia sekitar 50 tahun itu kini mengungsi bersama dua anaknya sejak Rabu pekan lalu. Ia memilih meninggalkan rumahnya demi keselamatan.

Iklan

“Saat itu, hujan deras mengguyur dan selalu terdengar keletek… dug… dug… dug… tanahnya jalan,” tuturnya kepada ifakta.co, Rabu (11/2).

“Bunyinya seperti paku yang mulai lepas dari kayu. Tanah ini sudah bergeser sekitar dua meter dari asalnya, dan pergeserannya terus berlanjut,” tambahnya.

Setiap bunyi itu terdengar, Sri dan anak-anaknya langsung berlari keluar rumah. Mereka tak berani kembali masuk.

“Kita selalu siaga. Kalau ada bunyi itu, langsung keluar. Sudah nggak berani masuk lagi,” katanya.

Sebagai ibu tunggal yang membesarkan dua anak setelah ditinggal suaminya, rumah itu bukan sekadar bangunan. Ia adalah simbol perjuangan dan tempat terakhir untuk merasa aman. Kini, semuanya terancam hilang.

Sri mengatakan, hingga kini bantuan yang diterima baru berupa sembako dari BPBD dan Polsek Tembalang. Selebihnya, warga berinisiatif sendiri membangun posko darurat di Musala Al Amin serta membongkar rumah yang berpotensi roboh demi mencegah korban jiwa.

“Kami sangat berharap pemerintah bisa segera turun tangan menyediakan posko yang lebih layak. Musala ini terbatas dan lokasinya masih dekat dengan titik kejadian,” ujarnya.

Dengan suara bergetar, Sri menyampaikan harapan terbesarnya: relokasi.

“Kami sangat berharap bisa direlokasi dan punya rumah yang layak,” ucapnya sambil menahan tangis.

Menjelang Ramadan, suasana duka terasa semakin berat. Bulan yang biasanya ia sambut dengan khusyuk kini dibayangi kecemasan.

“Kadang saya sedih sekali kalau mikir bencana ini terjadi pada saya dan keluarga. Rumah tempat berteduh sudah nggak bisa ditempati. Biasanya Ramadan fokus ibadah, sekarang malah dapat cobaan.”

Namun di tengah retakan dinding dan ketidakpastian, Sri tetap menanamkan keteguhan pada anak-anaknya.

“Saya selalu bilang ke anak-anak, sehancur apa pun kamu, sehancur apa pun rumah dan harta kamu, jangan pernah tinggalkan sholat. Tuhan pasti mendengar.”

Kini, di tengah dinding yang retak dan tanah yang masih bergerak, Sri Darningsih mempunyai harapan besar kepada Tuhan, kepada kepedulian pemerintah agar ia dan kedua anaknya bisa kembali memiliki tempat tinggal yang aman dan layak.

Bagi Sri, relokasi bukan sekadar pindah rumah, melainkan kesempatan untuk memulai kembali kehidupan yang sempat runtuh bersama bangunan tempatnya berteduh.

Di sela tangisnya, ia tak meminta lebih hanya ruang aman untuk ia dan anak-anaknya serta menjalani ibadah dengan tenang tanpa dihantui suara tanah yang terus bergeser.

(naf/kho)