SEMARANG, ifakta.co – Wingko babat dikenal luas sebagai salah satu oleh-oleh khas Kota Semarang. Kue berbahan dasar tepung ketan dan parutan kelapa ini memiliki cita rasa manis-gurih dengan tekstur legit dan aroma khas kelapa bakar.
Namun di balik popularitasnya, wingko babat menyimpan sejarah panjang yang berawal dari perjalanan perantauan dan dinamika sosial pada masa kolonial hingga pascakemerdekaan.
Meski lekat dengan identitas Semarang, sejarah mencatat bahwa wingko babat sejatinya berasal dari Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Jajanan ini telah dibuat sejak 1898 oleh pasangan perantau Tionghoa, Loe Soe Siang dan istrinya, Djoa Kiet Nio, yang menetap di Babat.
Iklan
Dari tangan merekalah, wingko babat pertama kali dikenal masyarakat setempat sebagai kudapan sederhana berbahan ketan dan kelapa.
Usaha tersebut kemudian diteruskan oleh generasi kedua, yakni dua anak mereka, Loe Lan Ing dan Loe Lan Hwa. Loe Lan Ing melanjutkan produksi wingko babat di Babat, Lamongan. Sementara itu, perjalanan berbeda ditempuh oleh Loe Lan Hwa.
Bersama suaminya, The Ek Tjong yang kemudian dikenal sebagai D. Mulyono, serta dua anak mereka, Loe Lan Hwa mengungsi ke Semarang pada 1944 akibat huru-hara yang terjadi setelah kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II.
Menurut jurnal karya Suwarti Dwi Sarwopeni dan Ufi Saraswati dari Jurusan Sejarah Universitas Negeri Semarang yang dimuat dalam Journal of Indonesian History Vol. 10 No. 1 Tahun 2021, pada 1946 Loe Lan Hwa mulai memproduksi wingko babat di Semarang. Awalnya, wingko tersebut dijajakan secara sederhana dari pintu ke pintu dan dititipkan di sebuah kios kecil penjual makanan di Stasiun Tawang.
Seiring waktu, wingko babat buatan Loe Lan Hwa mulai digemari masyarakat. Lokasi penjualan yang strategis di kawasan stasiun turut mempercepat penyebaran popularitasnya. Dari situlah wingko babat perlahan dikenal sebagai jajanan khas Semarang.
Pada mulanya, wingko babat produksi Loe Lan Hwa hanya dibungkus kertas polos tanpa merek. Namun karena banyak pembeli menanyakan identitas produknya, muncullah merek “Cap Spoor”. Nama dan logo tersebut terinspirasi dari gambar sampul buku saran di gerbong restorasi atau kereta makan, sesuai dengan pekerjaan D. Mulyono yang bekerja di bagian restorasi kereta api.
Seiring perkembangan bahasa, merek Cap Spoor kemudian diubah menjadi “Cap Kereta Api”. Namun karena banyak produsen lain menggunakan simbol serupa, Loe Lan Hwa menambahkan nama D. Mulyono d/h Loe Lan Siang pada kemasan untuk membedakan produknya. Pada 1958, merek wingko babat tersebut resmi didaftarkan sebagai merek dagang.
Sejak saat itu, produksi wingko babat di Semarang semakin menjamur dan dijual secara lebih luas, baik melalui kios oleh-oleh maupun pedagang asongan.
Perkembangan kota Semarang pada 1960-an turut mendorong popularitas wingko babat. Ketika pusat perdagangan bergeser ke kawasan Simpang Lima dan Jalan Pandanaran mulai dipenuhi toko oleh-oleh, wingko babat semakin mengukuhkan posisinya sebagai buah tangan khas kota ini.
Hingga kini, meskipun berasal dari Babat, Lamongan, wingko babat justru lebih dikenal sebagai ikon kuliner Semarang.
Resep Wingko Babat
Bahan-bahan:
- 125 gram tepung ketan
- 1 buah kelapa setengah tua, kupas dan parut memanjang
- ½ sendok teh garam
- ½ sendok teh vanili bubuk
- 100 ml air hangat
- 100 gram gula pasir
Cara Membuat:
- Campurkan tepung ketan, kelapa parut, garam, dan vanili bubuk. Aduk hingga rata.
- Campur air hangat dengan gula pasir, aduk hingga gula larut.
- Tuangkan larutan gula ke dalam adonan, lalu uleni hingga adonan padat dan bisa dibentuk.
- Bagi adonan menjadi 20 bagian, bentuk bulat pipih.
- Tata di atas loyang yang dialasi daun pisang.
- Panggang hingga matang dan berwarna kecokelatan, lalu angkat. Wingko babat siap disajikan.
Alternatif:
Jika tidak memiliki oven, wingko babat dapat dipanggang menggunakan teflon. Alasi teflon dengan daun pisang, lalu panggang hingga permukaannya kecokelatan.
(naf/kho)

