BANYUMAS, ifakta.co – Wayang kulit gagrag Banyumasan merupakan salah satu bentuk pertunjukan wayang kulit yang berkembang di wilayah Karesidenan Banyumas, meliputi Banyumas, Cilacap, Purbalingga, Banjarnegara, serta sebagian wilayah barat Kebumen.

Kesenian ini memiliki kekhasan tersendiri yang membedakannya dari gaya wayang kulit Surakarta dan Yogyakarta, terutama dalam penggunaan bahasa, gaya pementasan, serta nuansa kerakyatan yang kuat.

Secara lakon, wayang kulit gagrag Banyumasan tetap bersumber pada epos Mahabharata dan Ramayana. Namun, penyajiannya disesuaikan dengan latar budaya masyarakat Banyumas yang lekat dengan kehidupan agraris, sederhana, dan egaliter.

Iklan

Sejarah dan Perkembangan Gagrag Banyumas

Berdasarkan catatan dalam Pathokan Pedalangan Gagrag Banyumas, wayang kulit di wilayah Banyumas diperkirakan mulai berkembang sejak masa Kerajaan Majapahit. Penyebarannya berkaitan dengan perpindahan masyarakat beragama Hindu yang terdesak oleh berkembangnya Islam di wilayah Jawa bagian timur dan tengah.

Dalam perkembangannya, pedalangan Banyumas mengenal beberapa gaya atau gagrag, antara lain gagrag lor nggunung dan gagrag kidul nggunung. Perbedaan ini muncul akibat pengaruh berbagai gaya pedalangan lain, seperti Mataraman, Kedu, Surakarta, dan Yogyakarta.

Pendapat lain menyebutkan adanya tiga gagrag, yakni gagrag lor nggunung, gagrag pesisiran, dan gagrag Sena Wangi, yang muncul setelah terbitnya buku Pathokan Pedhalangan Gagrag Banyumas oleh Senawangi.

Ciri Khas Bahasa dan Dialog

Salah satu ciri paling menonjol dari wayang kulit gagrag Banyumasan adalah penggunaan bahasa dialek Banyumasan (ngapak) dalam dialog antar tokoh. Bahasa yang digunakan cenderung lugas, spontan, sarat humor, dan terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.

Gaya dialog ini menciptakan suasana pertunjukan yang lebih santai, gayeng, dan komunikatif, tanpa menghilangkan pesan moral yang terkandung dalam cerita. Hal tersebut membuat pertunjukan wayang gagrag Banyumasan mudah diterima oleh berbagai kalangan usia.

Tokoh dan Cerita Khas Banyumasan

Wayang kulit gagrag Banyumasan menampilkan sejumlah tokoh yang merepresentasikan local genius masyarakat Banyumas. Beberapa karakter mengalami penyesuaian penokohan agar lebih relevan dengan nilai-nilai lokal, seperti kesederhanaan, kejujuran, dan keluguan.

Sanggit cerita atau pengolahan alur kisah pun sering disesuaikan dengan konteks sosial masyarakat Banyumas. Meski tetap berpegang pada cerita pokok Mahabharata dan Ramayana, dalang Banyumasan kerap menyisipkan kritik sosial, humor, serta nasihat kehidupan yang dekat dengan realitas penonton.

Ciri Estetika dan Garap Pakeliran

Ciri estetik wayang kulit gagrag Banyumasan tampak jelas pada unsur sanggit, bentuk wayang, serta garap pakeliran yang bernuansa kerakyatan. Pertunjukan dikemas dengan suasana yang gobyog, gayeng, rame, dan nyopak.

Konsep nyopak menjadi ciri khas estetika gagrag Banyumas, yang bermakna pas, jibles, dan menyatu. Istilah ini memiliki kesamaan makna dengan konsep jebles dalam wayang golek, namun nyopak secara khusus merujuk pada estetika pertunjukan wayang kulit gagrag Banyumas. Ciri tersebut tampak pada sulukan, antawacana, iringan gamelan, hingga karakter tokoh dalam pakeliran.

Bentuk Wayang dan Unsur Visual

Dari segi visual, wayang kulit gagrag Banyumasan cenderung memiliki bentuk yang lebih sederhana dengan warna yang tidak terlalu mencolok. Hal ini mencerminkan filosofi hidup masyarakat Banyumas yang menjunjung kesederhanaan dan keseimbangan.

Meskipun tampak sederhana, detail seni lukis dan tatah wayang dibuat dengan ketelitian tinggi, menunjukkan keahlian para perajin wayang Banyumas dalam menciptakan karya seni bernilai estetis.

Fungsi Sosial dan Pendidikan

Wayang kulit gagrag Banyumasan tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga menjadi media pendidikan dan penyampaian nilai moral. Pertunjukan wayang sering mengajarkan nilai etika, kebijaksanaan, serta sikap hidup yang diharapkan dapat menjadi pedoman bagi masyarakat.

Selain itu, wayang gagrag Banyumas kerap ditampilkan dalam berbagai upacara adat dan ritual keagamaan. Pertunjukan ini dipandang sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur sekaligus sarana menjaga keseimbangan spiritual dalam kehidupan masyarakat.

Pelestarian dan Pengembangan Budaya

Upaya pelestarian wayang kulit gagrag Banyumasan terus dilakukan oleh para dalang, komunitas seni, serta penggiat budaya. Berbagai kegiatan seperti pelatihan, lokakarya, dan pertunjukan rutin digelar untuk mengenalkan kesenian ini kepada generasi muda.

Pelestarian wayang kulit gagrag Banyumas menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan warisan budaya lokal agar tetap hidup di tengah arus modernisasi dan perubahan zaman.

(naf/kho)