JAKARTA, ifakta.co – Sebuah video yang memperlihatkan seorang bapak penjual es jadul jenis es gabus atau es spons mendadak viral di media sosial.

Dalam video tersebut, penjual es itu dituding menggunakan bahan spons sebagai campuran dagangannya, tudingan yang langsung menuai kemarahan dan simpati publik.

Video berdurasi kurang dari satu menit itu awalnya diunggah oleh seorang pengguna media sosial yang merekam proses penjual memotong es berwarna-warni. Narasi yang menyertainya menyebutkan bahwa es tersebut bukan terbuat dari bahan pangan, melainkan spons yang biasa digunakan untuk keperluan rumah tangga.

Iklan

Narasi itu dengan cepat menyebar, memicu perdebatan di kolom komentar. Sebagian warganet langsung menghakimi dan menuding penjual tidak jujur, sementara lainnya membela sang bapak penjual dan meminta agar publik tidak gegabah menyimpulkan sesuatu tanpa bukti yang jelas.

Tak sedikit pula yang mengingatkan bahwa es gabus atau es spons merupakan jajanan tradisional yang sudah lama dikenal masyarakat. Teksturnya yang kenyal memang sering disalahpahami, terutama oleh generasi muda yang tidak akrab dengan jajanan lawas tersebut.

“Es ini dari dulu memang disebut es spons atau es gabus karena teksturnya, bukan karena bahannya dari spons,” tulis salah satu warganet yang mengaku pernah menjual jajanan serupa.

Seiring viralnya video itu, simpati publik justru mengalir deras kepada sang bapak penjual. Banyak warganet menilai tudingan tersebut berpotensi merugikan pedagang kecil yang hanya berusaha mencari nafkah. Beberapa akun bahkan mengajak pengguna media sosial untuk lebih bijak sebelum menyebarkan konten yang dapat mencemarkan nama baik orang lain.

Fenomena ini kembali mengingatkan kuatnya pengaruh media sosial dalam membentuk opini publik. Dalam hitungan jam, sebuah tuduhan bisa menyebar luas tanpa proses klarifikasi, dan pihak yang paling rentan terdampak adalah masyarakat kecil.

Hingga kini, belum ada keterangan resmi dari pihak berwenang terkait video viral tersebut. Namun peristiwa ini menjadi pelajaran penting bahwa literasi digital dan kehati-hatian dalam menyikapi konten viral sangat dibutuhkan, agar empati dan akal sehat tidak kalah oleh sensasi.

(min)