SEMARANG, ifakta.co– Cerpen “Lukisan Bergetar” karya S. Prasetyo Utomo yang terbit di Kumpulan Cerpen Kompas pada Agustus 2005 menghadirkan kisah tentang relasi ibu dan anak dari sudut yang kontras.
Cerita ini menyoroti bagaimana hubungan keluarga dapat menyisakan jejak emosi yang panjang, bahkan ketika waktu telah berlalu. Melalui latar kota kecil yang sunyi dan simbol lukisan di dinding rumah, penulis membawa pembaca pada pergulatan batin dua tokoh yang sama-sama terikat jauh dengan sosok ibu.
“Lukisan Bergetar” menceritakan dua tokoh utama dengan sikap yang saling bertolak belakang terhadap figur ibu. Tokoh pertama adalah seorang pemuda yang menyimpan luka masa kecil, merasa ditinggal dan diabaikan oleh ibunya, hingga tumbuh menjadi pribadi yang tertutup.
Iklan
Luka itu menggores dan menetap di hatinya, sampai ia memilih tidak datang saat ibunya sakit hingga meninggal dunia.
Penolakannya tergambar dalam penggalan berikut:
Pada Ibu yang melahirkanku, ketika ia sakit dan meninggal dunia, tak kutengok sekejap pun. Ia dimakamkan, tanpa kehadiranku.
Sikap tersebut bukan menunjukkan sekadar kemarahan, melainkan pemutusan hubungan batin. Dalam perspektif psikologi, kondisi ini sering dikaitkan dengan parental wound atau luka pengasuhan yang membuat seseorang merasa ditolak, diabaikan, atau tidak dicintai pada masa kecil. Luka semacam ini kerap memengaruhi cara seseorang membangun hubungan di masa dewasa.
Berbeda dengan pemuda itu, tokoh kedua adalah seorang gadis muda yang justru datang dengan kerinduan. Ia dibesarkan oleh orang tua angkat dan tidak pernah benar-benar mengenal ibu kandungnya. Pencarian terhadap sang ibu menjadi bagian dari upayanya memahami identitas diri.
Keinginannya tampak dalam kalimat:
Aku ingin sebagaimana layaknya seorang gadis yang dipinang calon suami, bisa mempertemukan dengan ibu kandung.
Pernyataan ini mencerminkan kebutuhan manusia untuk mengenal akar keluarganya. Bagi sebagian orang, mengetahui asal-usul bukan sekadar rasa ingin tahu, tetapi kebutuhan emosional untuk merasa utuh.
Melalui dua tokoh ini, “Lukisan Bergetar” menampilkan dua respons terhadap luka keluarga: menghindar dan mencari. Keduanya lahir dari kekosongan batin yang berbeda. Simbol lukisan yang terus “bergetar” karena angin dapat dimaknai sebagai masa lalu yang tidak benar-benar diam. Ia tetap hadir dan menunggu untuk dihadapi.
Meski cerpen ini terbit 21 tahun lalu, persoalan yang diangkat masih terasa dekat dengan kehidupan sekarang. Tidak sedikit orang dewasa membawa pengalaman masa kecil yang belum selesai. Dampaknya bisa muncul dalam bentuk menjaga jarak emosional, sulit percaya pada orang lain, atau merasa kosong dan hampa.
Cerpen ini mengingatkan bahwa konflik keluarga yang diabaikan tidak serta-merta hilang. Ia bisa berubah menjadi penyesalan atau pencarian panjang di kemudian hari. Waktu berjalan satu arah, dan kesempatan memperbaiki hubungan dengan orang tua tidak selalu datang dua kali.
Pada akhirnya, Lukisan Bergetar bukan hanya cerita tentang hubungan ibu dan anak, namun juga tentang cara manusia berdamai dengan masa lalu. Di antara mencari dan menolak, yang paling berat sering kali adalah keberanian untuk menerima dan memaafkan.
(naf/kho)



