BEIJING, ifakta.co – Bayang-bayang perlambatan masih menyelimuti sektor properti China. Data resmi yang dirilis pada Senin (19/1) menunjukkan, harga rumah baru di Negeri Tirai Bambu kembali mencatat penurunan, menandai berlanjutnya tekanan pada salah satu tulang punggung perekonomian nasional tersebut.

Berdasarkan perhitungan Reuters dari data Badan Statistik Nasional China (NBS), harga rumah baru turun 0,4 persen secara bulanan. Laju koreksi ini sama dengan penurunan yang terjadi pada November 2025, mencerminkan stagnasi pemulihan yang diharapkan banyak pelaku pasar.

Iklan

Angka-angka tersebut berbicara lebih dari sekadar statistik. Di baliknya, ada deretan proyek perumahan yang sepi penghuni, pengembang yang menahan napas di tengah beban utang, serta konsumen yang kian berhitung sebelum mengambil keputusan membeli properti. Pasar yang dulu menjadi simbol pertumbuhan pesat, kini bergerak tertatih, seolah kehilangan daya dorongnya.

Penurunan harga yang konsisten mengindikasikan bahwa kepercayaan pembeli belum sepenuhnya pulih, meskipun berbagai kebijakan pelonggaran telah digulirkan pemerintah.

Sektor properti, yang selama bertahun-tahun menjadi mesin pertumbuhan dan sumber pendapatan daerah, masih bergulat dengan kelebihan pasokan dan lemahnya permintaan.

Bagi perekonomian China secara keseluruhan, kondisi ini menjadi pengingat bahwa jalan menuju stabilisasi tidaklah singkat. Selama harga rumah terus melandai dan minat beli belum kembali menguat, sektor properti akan tetap menjadi titik rapuh menahan laju pemulihan, sekaligus menguji ketahanan ekonomi terbesar kedua di dunia itu. (FA)