JAKARTA, ifakta.co – Penaklukan ladang minyak yang terhampar di timur Sungai Eufrat menjadi babak getir dalam dinamika konflik yang tak kunjung reda. Wilayah kaya energi itu selama ini dikenal sebagai sumber pendapatan utama bagi pasukan yang dipimpin Kurdi, menopang logistik, operasional militer, hingga roda pemerintahan de facto di kawasan tersebut.

Kini, ladang-ladang yang dahulu berdenyut sebagai nadi ekonomi perlahan senyap. Kehilangannya bukan sekadar soal wilayah, melainkan pukulan telak yang mengguncang fondasi kekuatan kelompok Kurdi.

Iklan

Tanpa aliran pendapatan dari minyak, posisi tawar mereka di tengah percaturan politik dan militer kawasan kian melemah.

Di timur Eufrat, minyak bukan hanya komoditas, melainkan simbol kendali. Siapa menguasainya, memegang kunci pengaruh. Karena itu, penaklukan ini dipandang sebagai perubahan signifikan dalam peta kekuatan, membuka ruang bagi aktor lain untuk memperluas pengaruh sekaligus menekan eksistensi pasukan Kurdi yang selama ini bertahan di bawah bayang konflik berkepanjangan.

Bagi kelompok tersebut, jatuhnya ladang minyak ibarat hilangnya jangkar di tengah arus deras geopolitik. Di antara debu konflik dan gema senjata, mereka kini dihadapkan pada kenyataan pahit untuk mempertahankan eksistensi tanpa sumber daya utama, di medan yang semakin sempit dan penuh tekanan. (FA)