JAKARTA, ifakta.co – Di tengah krisis global yang kian kompleks—perubahan iklim, tekanan pangan dunia, degradasi lingkungan, dan ketimpangan ekonomi—dunia membutuhkan pendekatan baru dalam memastikan keberlanjutan hidup umat manusia.

Ketergantungan berlebihan pada sistem pangan berbasis darat terbukti tidak lagi cukup. Produksi daging merah, misalnya, menyumbang emisi karbon tinggi, membutuhkan lahan luas, serta mempercepat kerusakan ekosistem. Dalam konteks inilah blue food—pangan yang bersumber dari laut dan perairan tawar—muncul sebagai alternatif strategis bagi masa depan pangan global.

Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia berada pada posisi yang sangat strategis. Dengan lebih dari 17.000 pulau, wilayah laut yang mencakup sekitar 75 persen total teritorial nasional, serta kekayaan biodiversitas laut tertinggi di dunia, Indonesia sesungguhnya memiliki modal geopolitik dan geoekonomi untuk menjadi poros utama blue food global. Namun, potensi besar ini masih belum sepenuhnya diterjemahkan menjadi kekuatan nasional yang terintegrasi dan berkelanjutan.

Iklan

Blue Food dan Tantangan Pangan Global

Konsep blue food merujuk pada seluruh sumber pangan yang berasal dari ekosistem akuatik, termasuk ikan laut, ikan air tawar, krustasea, moluska, rumput laut, hingga produk turunannya. Berbeda dengan pangan berbasis darat, blue food memiliki tiga keunggulan utama.

Pertama, nilai gizi yang tinggi, terutama protein, asam lemak omega-3, serta mikronutrien esensial. Kedua, jejak karbon yang relatif lebih rendah dibandingkan peternakan darat. Ketiga, ketersediaan sumber daya yang sangat luas, mengingat lebih dari 70 persen permukaan bumi adalah perairan.

Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) memproyeksikan bahwa permintaan global terhadap produk perikanan dan akuatik akan terus meningkat hingga 2050, seiring pertumbuhan penduduk dan perubahan pola konsumsi masyarakat dunia. Dengan pasar global blue food yang nilainya telah melampaui ratusan miliar dolar AS per tahun, sektor ini bukan hanya isu ketahanan pangan, tetapi juga arena kompetisi ekonomi global.

Potensi Strategis Indonesia

Indonesia memiliki hampir seluruh prasyarat untuk menjadi pemain utama blue food. Panjang garis pantai yang mencapai hampir 100.000 kilometer, Zona Ekonomi Eksklusif yang luas, serta ekosistem laut yang lengkap—terumbu karang, mangrove, padang lamun, hingga laut dalam—menjadikan Indonesia sebagai salah satu pusat biodiversitas laut dunia. Produksi perikanan nasional, baik tangkap maupun budidaya, juga menunjukkan kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional.

Produksi Perikanan Indonesia 2015–2025

Komoditas unggulan seperti udang, tuna, cakalang, rumput laut, kepiting, dan lobster telah menjadi andalan ekspor Indonesia.

Namun, sebagian besar ekspor tersebut masih berbentuk bahan mentah atau setengah jadi. Nilai tambah yang dinikmati Indonesia relatif kecil dibandingkan negara-negara yang menguasai teknologi pengolahan, logistik dingin (cold chain), dan standar keberlanjutan global.

Di sisi lain, jutaan nelayan kecil dan pembudidaya ikan masih hidup dalam kondisi rentan. Paradoks ini menunjukkan bahwa persoalan Indonesia bukan pada ketiadaan sumber daya, melainkan pada tata kelola, kebijakan, dan keberanian melakukan transformasi struktural.

Tantangan Struktural yang Harus Dihadapi

Ada sejumlah tantangan utama yang harus dihadapi Indonesia untuk benar-benar menjadi poros blue food dunia. Pertama, kerusakan ekosistem laut akibat penangkapan berlebih, alat tangkap destruktif, dan pencemaran. Tanpa laut yang sehat, konsep blue food berkelanjutan akan kehilangan fondasinya.

Kedua, praktik penangkapan ikan ilegal (illegal, unreported, and unregulated fishing) yang masih menyebabkan kerugian ekonomi besar serta melemahkan kedaulatan negara.

Ketiga, lemahnya infrastruktur pendukung, mulai dari pelabuhan perikanan, sistem logistik dingin, hingga industri pengolahan di daerah pesisir. Keempat, regulasi yang belum sepenuhnya harmonis antara pusat dan daerah, sehingga sering menghambat investasi dan inovasi.

Komparasi Jejak Karbon: Daging Sapi vs Ikan

 

Pilih protein laut untuk iklim yang lebih dingin.

Yang tak kalah penting, aspek sumber daya manusia. Transformasi menuju ekonomi blue food membutuhkan nelayan dan pelaku usaha yang terampil, melek teknologi, serta mampu memenuhi standar keberlanjutan dan traceability yang kini menjadi syarat utama pasar global.

Menuju Poros Blue Food Dunia

Menjadikan Indonesia sebagai poros blue food dunia memerlukan visi jangka panjang dan peta jalan yang jelas. Pertama, negara perlu menyusun kerangka kebijakan nasional yang integratif—semacam Blue Food Roadmap—yang menghubungkan aspek lingkungan, ekonomi, sosial, dan diplomasi internasional.

Kedua, fokus pada hilirisasi dan inovasi. Pengembangan produk bernilai tambah tinggi, bioteknologi kelautan, serta pemanfaatan rumput laut untuk pangan fungsional, farmasi, dan material ramah lingkungan harus menjadi prioritas. Ketiga, pembangunan infrastruktur berbasis kawasan, seperti blue food hub dan pelabuhan perikanan modern yang terintegrasi dengan sistem digital.

Keempat, pemberdayaan nelayan kecil sebagai aktor utama, bukan sekadar objek kebijakan. Akses pembiayaan, asuransi, pendidikan vokasi, dan kemitraan usaha yang adil harus diperkuat. Kelima, diplomasi maritim dan pangan perlu diintensifkan agar Indonesia tidak hanya menjadi pemasok, tetapi juga penentu standar dan arah pasar blue food global.

Perbandingan Negara dengan Potensi Blue Food Terbesar

RankNegaraLuas ZEE (juta km²)Produksi Perikanan (2024. juta ton)Nilai Ekspor (2024. Miliar USD)Komoditas Unggulan
1Indonesia3.122.88.4Udang. tuna. rumput laut
2China0.96822Ikan air tawar. rumput laut
3India2.314.57.2Udang. ikan air tawar
4Vietnam19.211Udang. pangasius
5Norwegia2.14.115.5Salmon. trout
6USA11.45.410.3Tuna. salmon. lobster
7Peru1.26.84.1Anchoveta (ikan teri)

Penutup

Di abad ke-21, kekuatan sebuah bangsa tidak lagi semata ditentukan oleh luas daratan atau cadangan mineral, melainkan oleh kemampuannya mengelola sumber daya secara berkelanjutan dan inklusif. Laut adalah masa depan, dan blue food adalah jembatan antara ketahanan pangan, kesejahteraan rakyat, serta kelestarian bumi.

Indonesia memiliki semua modal untuk memainkan peran tersebut. Tantangannya kini adalah keberanian politik, konsistensi kebijakan, dan kesadaran kolektif bahwa menjadi poros maritim dunia bukan sekadar slogan, melainkan pilihan strategis bagi masa depan bangsa dan dunia.

PENULIS: Fendy Abdullah Hairin Sekjen Brigade Pangan dan Energi Indonesia-Wasekjen Himpunan Nelayan Seluruh Indonsia (HNSI) Lemhanas RI