PANDEGLANG, ifakta.co – Di negeri yang konstitusinya menjanjikan mencerdaskan kehidupan bangsa, masih ada anak-anak yang harus mengadu nasib pada lumpur dan batu sebelum sampai ke ruang kelas.

Madrasah Ibtidaiyah (MI) Babunajah di Kampung Lasem, Desa Sobang, Kecamatan Sobang, Kabupaten Pandeglang. Menjadi Salah satu penanda pendidikan negara ini sedang tidak baik baik saja. Jalan menuju sekolah bukan sekadar jalur pendidikan, melainkan rintangan harian yang menguji keteguhan langkah para siswa.

Setiap pagi, sepatu mereka basah sebelum bel berbunyi. Lumpur melekat di betis, air menggenang di sela-sela harapan. Jalan rusak yang tak kunjung diperbaiki telah lama menjadi pemandangan biasa, seolah penderitaan kecil di pinggir negeri ini tak cukup penting untuk dicatat dalam agenda para pemangku kebijakan.

Iklan

Ironisnya, di tengah gencarnya wacana peningkatan kualitas pendidikan, akses paling dasar justru diabaikan. Bagaimana mungkin anak-anak diminta berprestasi, sementara negara tak menyediakan jalan yang layak untuk mereka sekadar tiba di bangku sekolah?

Merespons kenyataan pahit itu, Redaksi GarudaSiber mengambil langkah yang mungkin terdengar sederhana, namun sarat makna. Dengan mengirimkan sepatu boots untuk siswa dan siswi MI Babunajah.

Bukan sebagai solusi atas problem struktural, melainkan sebagai penanda, bahwa ketika negara absen. Nurani tak boleh ikut menghilang.

“Awalnya ketika kami mengkonfirmasi kepada Kades Hasanudin, namun tidak ada jawaban, disinilah nurani kami tergerak untuk turun langsung memberikan bantuan berupa sepatu boots kepada siswa dan siswi sekolah dasar,”Jelas Yudianto, yang juga sebagai penanggung jawab garudasiber.net kepada ifakta.co (18/1)

Sepatu boots itu menjadi penyelamat sementara. Ia melindungi kaki-kaki kecil dari luka dan dingin, sekaligus menjadi simbol perlawanan sunyi terhadap ketidakpedulian. Di balik karet hitam yang membungkus kaki para siswa, tersimpan pesan keras untuk pendidikan dan bukan hanya soal kurikulum atau angka anggaran. Tetapi tentang kehadiran nyata negara dalam kehidupan warganya.

Sudah terlalu lama aparatur negara menutup mata terhadap persoalan di lini pendidikan yang paling mendasar. Jalan rusak bukan sekadar soal infrastruktur, melainkan soal keadilan.

Setiap lubang yang dibiarkan menganga adalah jarak yang kian melebar antara janji dan realisasi. Hari ini, sepatu boots memang membantu para siswa melangkah. Namun esok, yang mereka butuhkan bukan lagi bantuan darurat, melainkan tanggung jawab negara yang hadir sepenuhnya. Sebab pendidikan tak seharusnya ditempuh dengan mengorbankan keselamatan, dan masa depan bangsa tak pantas dibangun di atas jalan yang dibiarkan rusak.(Jo)