JAKARTA, ifakta.co — Saham-saham China dinilai berpotensi memasuki fase slow bull atau reli jangka panjang yang bergerak perlahan.
Penilaian ini disampaikan analis dari UBS, seiring dorongan kebijakan Beijing yang kian agresif mengarahkan reformasi pasar modal.
Iklan
Dalam kajiannya, UBS menilai pemerintah China secara bertahap menggeser orientasi kekayaan rumah tangga dari sektor properti menuju pasar saham.
Langkah ini ditempuh menyusul melemahnya sektor real estat yang selama puluhan tahun menjadi instrumen utama penempatan aset masyarakat.
“Perubahan kebijakan ini tidak serta-merta menciptakan reli cepat, tetapi membangun fondasi pertumbuhan pasar saham yang lebih berkelanjutan,” tulis analis UBS dalam laporan terbarunya.
Pasar saham A-shares China tercatat tertinggal dibandingkan indeks-indeks global utama selama lebih dari satu dekade.
Namun UBS menegaskan, keterlambatan tersebut bukan semata akibat perlambatan ekonomi China, melainkan dipicu persoalan struktural yang mengakar di pasar modal.
Di antaranya adalah dominasi investor ritel jangka pendek, tata kelola perusahaan yang belum merata, serta terbatasnya instrumen investasi jangka panjang.
Kondisi ini membuat pasar saham China kurang mencerminkan fundamental pertumbuhan ekonomi nasional.
“Ekonomi China tumbuh, tetapi nilai itu tidak sepenuhnya tercermin di pasar saham,” tulis UBS.
Reformasi Pasar Modal Dipercepat
Pemerintah China dalam beberapa tahun terakhir mendorong reformasi pasar modal melalui peningkatan transparansi emiten, penguatan perlindungan investor, serta perluasan peran investor institusi seperti dana pensiun dan asuransi.
Di saat yang sama, kebijakan pengetatan di sektor properti membuat saham menjadi alternatif penempatan dana yang lebih menarik.
UBS melihat kebijakan ini sebagai katalis jangka panjang yang berpotensi meningkatkan partisipasi investor domestik sekaligus memperbaiki struktur pasar.
Prospek Jangka Panjang
Meski belum menjanjikan lonjakan tajam dalam waktu dekat, fase slow bull dinilai memberi peluang akumulasi bagi investor berorientasi jangka panjang.
Saham-saham berfundamental kuat, terutama di sektor teknologi, konsumsi, dan energi baru, diperkirakan menjadi penerima manfaat utama.
“Ini bukan reli cepat, melainkan proses pendewasaan pasar,” tulis UBS, seraya menekankan bahwa konsistensi kebijakan akan menjadi kunci keberhasilan transformasi pasar saham China.
Bagi pelaku pasar global, perkembangan ini menandai babak baru pasar modal China—bergerak perlahan, namun dengan arah yang lebih terstruktur dan berjangka panjang.(FA)



