YOGYAKARTA,- ifakta,.– Malam masih lengket dengan sunyi ketika kabar itu menyambar jagat musik Indonesia: Ecky Lamoh, mantan vokalis Elpamas dan Edane, telah menghembuskan napas terakhir. Sosok yang kerap meneriakkan kebebasan lewat panggung-panggung rock itu kini beristirahat selamanya.

Rumah Duka RS Panti Rapih jadi titik pertemuan kenangan. Lampu redup, bunga belasungkawa berdatangan, sementara rekaman suara Ecky masih diputar pelan oleh beberapa kerabat. Gue ikut hadir, Bro. Lantai rumah duka itu serasa menyimpan gema sorakan penonton yang pernah meneriakkan namanya.

Salah satu yang bersuara adalah Ardi, rekan musisi yang pernah satu panggung dengannya di berbagai festival.“Bang Ecky itu bukan cuma vokalis. Dia adalah suara perlawanan. Di era kita, dia jadi simbol keberanian untuk tampil beda,” ujarnya sambil menyeka mata.
(Wawancara langsung di rumah duka, 30/11)

Iklan

Seorang perawat yang bertugas di RSUP Dr. Sardjito — minta namanya nggak dituliskan — bilang bahwa Ecky sempat bertahan kuat beberapa hari.“Walau sakitnya berat, beliau tetap mencoba komunikasi. Mengangkat tangan sedikit saja, seperti memberi isyarat kuat. Keluarga selalu di sampingnya,” ungkapnya.
(Wawancara di RSUP Sardjito)

Dari keterangan keluarga yang berhasil kami mintai komentar singkat, Ecky menjalani perawatan lantaran komplikasi beberapa penyakit.“Mas Ecky itu fighter. Sampai akhir dia nggak pernah menyerah,” tutur Rere, adik Ecky.

Beberapa personel Edane yang hadir tampak terpukul. Mereka membagikan sepenggal kenangan pada media — salah satunya kepada ifakta.co.

Dwi, gitaris, berkata pendek tapi dalam:“Dialah suara album pertama kami. Kalau bukan dia, Edane mungkin nggak jadi seperti sekarang.”
(Wawancara di rumah duka)

Sementara Mamat, eks kru Elpamas, justru tersenyum kecil ketika mengenang humor Ecky.“Dia selalu bilang: ‘Kalau lo bernyanyi tanpa jiwa, mending jangan naik panggung’. Itu tertanam di kepala kami.”

Di halaman depan rumah duka, seorang pria paruh baya membawa poster lusuh bertuliskan “Rock Never Dies, Ecky Lives Forever”. Namanya Yayan, fans setia sejak SMA.“Suara dia yang bikin saya jatuh cinta sama rock. Ini kehilangan besar buat kami para metalhead lama.”

Beberapa fans muda juga datang, meski mungkin mereka mengenal Ecky bukan lewat panggung live, melainkan video lawas dan Spotify. Itu bukti bahwa warisan musiknya menjangkau lintas zaman.

Sebelum jenazah diberangkatkan ke pemakaman keluarga, seorang pendeta memimpin doa. Suaranya lembut, kontras dengan karakter vokal Ecky yang selama ini memecah langit konser.“Ia telah menyelesaikan konser terpenting dalam hidupnya,” ujarnya, menutup prosesi perpisahan.